LPS minta mahasiswa waspadai risiko pinjol dan paylater
Selasa, 20 Oktober 2026 16:43 WIB
LPS minta mahasiswa waspadai risiko pinjol dan paylater. ANTARA
Makassar (ANTARA) - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengingatkan kepada masyarakat khususnya mahasiswa jangan mudah tergiur dengan pinjaman online (pinjol) dan paylater yang justru berpotensi merugikan dalam perjalanan ke depan.
Direktur Eksekutif Kesekretariatan dan Hubungan Lembaga LPS KM Nuruddin di Makassar, Selasa, mengakui pesatnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital yang belum diimbangi dengan pemahaman memadai mengenai manfaat dan risikonya.
Kondisi ini, kata dia, membuat generasi muda, termasuk mahasiswa, rentan terjebak pinjaman online dan layanan paylater yang tidak sesuai dengan kemampuan finansial.
"Kadang-kadang mahasiswa tertarik atau tergiur untuk menggunakan paylater, tapi kemampuan untuk melunasi atau melakukan cicilan setiap bulannya itu tidak terjangkau," ujarnya.
"Itu yang kita harapkan sekarang teredukasi masyarakat, ya minimal mereka tahulah cara mengelola keuangan karena ini kan buat masa depan juga," sambungnya pada Kuliah Umum Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (Like It) di Baruga AP Pettarani Unhas Makassar.
Nuruddin menjelaskan, inklusi keuangan di Indonesia berkembang pesat seiring kemudahan akses melalui aplikasi digital dan layanan mobile banking. "Masyarakat, khususnya generasi muda, kini dapat menggunakan berbagai produk keuangan hanya melalui telepon genggam," katanya.
Namun, menurut dia, peningkatan akses tersebut belum sepenuhnya diikuti pemahaman yang memadai mengenai karakteristik produk, risiko, hingga mekanisme pencairan dana ketika membutuhkan likuiditas.
“Fenomena sekarang memang inklusi keuangan kita itu terlalu cepat. Artinya, masyarakat sekarang akses kepada produk atau jasa keuangan itu sangat luas. Dengan klik, dengan mobile banking, masyarakat, khususnya generasi muda, cepat sekali bisa mengakses jasa atau produk keuangan tersebut,” ujarnya.
Pewarta : Abdul Kadir
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.