ILUSTRASI. LPS (Dok LPS/LPS)
Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - LAMPUNG. Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun sistem keuangan yang kuat. Namun, di saat yang sama, tantangannya juga tidak ringan. Pasalnya, kesenjangan (gap) antara inklusi dan literasi keuangan di Indonesia masih cukup lebar.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Farid Azhar Nasution. Menurutnya, inklusi keuangan tanpa diimbangi literasi bukanlah solusi.
Ia mengatakan, semakin mudah masyarakat mengakses layanan keuangan tanpa dibarengi kemampuan untuk mengelolanya, semakin besar pula risiko mereka terjebak utang, penipuan, maupun mengambil keputusan finansial yang keliru.
“Tantangan saat ini adalah akses berkembang lebih cepat daripada pemahaman. Gap literasi dan inklusi nasional masih sekitar 24 poin,” kata Farid dalam ajang Lampung Financial Festival 2026, Sabtu (5/9/2026).
Baca Juga: LPS Perkuat Literasi Penjaminan Simpanan di Lampung
Farid menyebut, kesenjangan antara pemahaman keuangan dan akses terhadap layanan keuangan membuat masyarakat berpotensi lebih besar terjebak dalam pinjaman online (pinjol) ilegal, judi online, belanja impulsif, fenomena Fear of Missing Out (FOMO), Fear of Other People's Opinions (FOPO), dan You Only Live Once (YOLO), serta penggunaan paylater yang semakin dipengaruhi algoritma digital.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis LPS, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Badan Pusat Statistik (BPS), inklusi keuangan nasional telah mencapai 93,6%, meningkat dari 92,7% pada tahun sebelumnya. Namun, indeks literasi keuangan nasional baru mencapai 69,57%, meski meningkat dari 66,64% pada 2025.
Oleh karena itu, LPS menilai inklusi keuangan saja tidak cukup. Masyarakat harus memiliki literasi yang memadai agar mampu memahami manfaat, biaya, dan risiko dari setiap layanan keuangan, sehingga dapat menggunakannya secara aman, bijak, dan berkelanjutan.
Menurut Farid, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun sistem keuangan yang kuat. Selain tingkat inklusi yang telah mencapai 93,6%, sekitar 69% penduduk Indonesia berada dalam usia produktif. Di sisi lain, jumlah masyarakat usia produktif yang belum memiliki rekening juga menurun, dari 18,2 juta orang pada 2025 menjadi 15,3 juta orang.
Digitalisasi turut memperluas akses masyarakat melalui layanan mobile banking, dompet digital, fintech, dan aplikasi investasi. Kondisi tersebut sekaligus membuka peluang bagi edukasi keuangan untuk menjangkau masyarakat secara lebih cepat dan luas.
Untuk itu, LPS terus memperkuat perannya dalam mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat. Salah satunya melalui dukungan terhadap penyelenggaraan Lampung Financial Festival 2026 (LFF 2026), yang bertujuan meningkatkan literasi keuangan, khususnya di kalangan generasi muda di berbagai SMA, SMK, dan perguruan tinggi di Lampung.
Kegiatan untuk mendorong literasi keuangan bagi generasi muda tersebut sebelumnya telah sukses digelar di Medan, Surabaya, dan Yogyakarta.
“Tujuannya, kegiatan ini membumikan literasi dan inklusi keuangan dari satu provinsi ke provinsi lain, dari kampus, sekolah, desa, hingga pesantren, dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter setiap daerah,” ujar Farid.
Baca Juga: Ketua LPS Sebut Tak Masalah Jika Bunga Bank Digital Masih Tinggi
Farid menambahkan, LPS tidak hanya menjamin simpanan nasabah, tetapi juga berperan dalam menjaga rasa aman dan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Melalui penjaminan dan penyampaian informasi yang jelas, kata dia, LPS membantu mencegah kepanikan, menjaga stabilitas, serta mendorong masyarakat untuk menabung, bertransaksi, dan berinvestasi sehingga aktivitas ekonomi tetap berjalan.
Menurut Farid, tujuan inklusi keuangan bukan hanya memperluas akses, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki literasi yang baik, didukung pengawasan dan perlindungan yang kuat.
“Jika keempatnya berjalan bersama, inklusi dan literasi keuangan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif serta mengurangi kesenjangan,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag
- inklusi keuangan
- literasi keuangan
- LPS