Pagi hari adalah saat paling jujur untuk membaca sebuah kota. Pada jam itu, jenama kota tidak hadir sebagai logo. Ia terasa dalam perjalanan yang pasti, layanan yang mudah, ruang yang nyaman, dan keyakinan bahwa kota masih menyediakan masa depan. Gedung baru, festival, investasi, dan wisatawan memang penting. Namun, kota yang ingin mengundang dunia harus lebih dahulu layak dicintai oleh orang yang hidup di dalamnya.
Di sinilah Inviting City berbeda dari city branding yang berhenti pada citra. Ia berangkat dari makna kota, kemudian bertanya: alasan apa yang membuat orang memilih datang, tinggal, dan bertumbuh? Jawabannya tidak seragam. Warga ingin merasa memiliki. Wisatawan mencari pengalaman yang ingin dikenang. Investor membutuhkan kepastian. Pebisnis mencari ruang untuk mencipta. Talenta ingin menemukan masa depan.
Makna itu baru dipercaya ketika hadir dalam pengalaman. Place membuat orang dapat bergerak dan menikmati ruang. People menghadirkan layanan, komunitas, dan rasa memiliki. Programme menjaga kota tetap hidup melalui kegiatan bisnis, budaya, pendidikan, serta pariwisata. Platform menghubungkan informasi, transaksi, data, dan kolaborasi. Keempatnya seperti instrumen dalam sebuah orkestra: berbeda suara, tetapi harus memainkan komposisi yang sama.
Singapura ketika Kepercayaan Menjadi Pengalaman
Singapura tidak hanya mengatakan bahwa dirinya dapat dipercaya. Kepercayaan itu dialami. Investor memperoleh kepastian, perusahaan menemukan akses menuju Asia, talenta melihat peluang karier, wisatawan merasa mudah menjelajahi kota, sementara warga ditopang oleh sistem yang membuat kehidupan sehari-hari lebih teratur. Satu makna payung hadir sebagai manfaat yang berbeda, tetapi tetap konsisten.
Konsistensi itu tumbuh karena empat fondasinya saling menguatkan. Konektivitas dan kawasan bisnis memberi bukti melalui place. Layanan yang kompeten serta masyarakat multikultural menghidupkan people. Agenda investasi, pengembangan talenta, konferensi, dan kalender acara menjadi programme. Di belakangnya, platform pelayanan serta koordinasi antarlembaga mengurangi banyak gesekan yang sering membuat sebuah kota melelahkan.
Hasilnya terlihat pada angka, meskipun angka bukan seluruh cerita. Pada 2025, Economic Development Board mencatat komitmen investasi aset tetap 14,2 miliar dolar Singapura. Singapore Tourism Board mencatat 16,9 juta kunjungan internasional. Pencapaian tersebut lahir bukan karena Singapura lebih pandai beriklan, melainkan karena janji yang dikomunikasikan relatif sama dengan pengalaman yang dirasakan (Sumber EDB dan STB).
Di baliknya terdapat orkestrasi berlapis. Pemerintah nasional menjaga arah. EDB mengelola investasi dan perusahaan global, Enterprise Singapore memperkuat perusahaan lokal, sedangkan Singapore Tourism Board mengembangkan pengalaman destinasi. Mereka tidak memainkan alat musik yang sama. Namun, semuanya bergerak dalam satu partitur kepercayaan.
Seoul ketika Kreativitas Menemukan Ekosistem
Seoul menempuh jalan berbeda. Kota ini tidak sekadar mempromosikan K-pop, film, kecantikan, kuliner, atau teknologi. Ia membiarkan seluruh energi itu saling bertemu. Wisatawan datang karena rasa ingin tahu, talenta menemukan ruang berkarya, pebisnis bertemu komunitas kreatif, investor melihat industri berbasis pengetahuan, sedangkan warga memperoleh ruang untuk mengekspresikan identitas kotanya.
Perhatian budaya kemudian tidak berhenti sebagai kekaguman. Ia bermigrasi menjadi kunjungan, pembelajaran, konsumsi, usaha, dan investasi. Transportasi serta kawasan kreatif menjadi place. Kreator, universitas, komunitas, dan startup menghidupkan people. Festival, inkubasi, produksi budaya, dan agenda inovasi menjadi programme. Jaringan yang mempertemukan modal, talenta, pasar, serta destinasi bekerja sebagai platform.
Seoul Metropolitan Government menjaga arah sebagai meta-orkestrator. Invest Seoul memfasilitasi investasi, Seoul Business Agency mengembangkan startup dan industri kreatif, sedangkan Seoul Tourism Organization memperkuat pengalaman destinasi. Pemerintah tidak menciptakan kreativitas warga. Ia menyiapkan panggung agar kreativitas menemukan ekosistemnya. Tidak mengherankan bila Global Power City Index 2025 menempatkan Seoul di posisi keenam dunia, tepat di belakang Singapura (Sumber GPCI dan Invest Seoul).
Jakarta dan Pekerjaan Menyatukan Keragaman
Jakarta sesungguhnya tidak kekurangan modal untuk menjadi kota yang mengundang. Ia memiliki pasar, perusahaan, perguruan tinggi, komunitas, industri kreatif, dan talenta dari berbagai daerah. Realisasi investasinya pada 2025 mencapai Rp270,9 triliun.
Namun, skala ekonomi belum otomatis menghadirkan pengalaman yang menyenangkan. Orang dapat datang karena peluang, tetapi memilih pergi ketika mobilitas, hunian, lingkungan, dan pelayanan terus menguras energi (Sumber Pemerintah Provinsi DKI Jakarta).
Karena itu, Jakarta perlu lebih dahulu memperjelas maknanya: tempat Indonesia bertemu dunia. Bagi investor, makna itu berarti pintu untuk memahami pasar Indonesia. Bagi pebisnis, ia berarti pelanggan dan mitra. Bagi talenta, Jakarta adalah ruang perjumpaan untuk belajar serta berkarya. Bagi wisatawan, ia menawarkan keragaman Indonesia. Namun, bagi warga, makna itu harus terasa sebagai hidup yang semakin mungkin dijalani. Tanpa legitimasi warga, cerita kota akan kehilangan akar.
Pekerjaan berikutnya adalah menyatukan pengalaman. Sudirman-Thamrin, Kota Tua, Blok M, Kemang, dan Kepulauan Seribu tidak cukup berjalan sebagai pulau-pulau daya tarik. Place, people, programme, dan platform harus membuat seluruh ruang tersebut berbicara dalam cerita yang sama. Jakarta tidak kekurangan aset. Yang masih kurang ialah kemampuan merangkainya menjadi pengalaman yang utuh.
Di sinilah orkestrator dibutuhkan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu menjaga arah sebagai meta-orkestrator, didukung badan profesional multipihak semacam Dewan Jenama dan Pengalaman Jakarta. Bukan birokrasi baru, badan ini menjadi ruang untuk menyelaraskan investasi, usaha, talenta, budaya, pariwisata, dan kualitas hidup dalam perspektif Jabodetabek.
Keberhasilan akhirnya bukan jumlah acara atau unggahan. Ukurannya adalah investasi yang berkualitas, bisnis lokal yang tumbuh, talenta yang ingin bertahan, wisatawan yang memilih kembali, dan warga yang semakin terikat pada kotanya. Singapura menunjukkan bagaimana kepercayaan dibuktikan.
Seoul memperlihatkan bagaimana kreativitas diorkestrasi. Jakarta perlu mengubah keragaman menjadi pengalaman bersama. Ketika itu terjadi, city branding tidak lagi berhenti sebagai kampanye. Ia hidup dalam kota yang benar-benar mengundang.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan CV ringkas dan foto diri.