Konferensi Keamanan Nasional: 7 Kegagalan yang Menghantui Israel dari Perang Bertubi-tubi |Republika Online
Warga Palestina yang mengungsi membawa barang-barang mereka melintasi kamp pengungsi Tulkarem di kota Tulkarm, Tepi Barat, pada 17 Juni 2026, saat militer Israel melanjutkan pengerahan pasukan di seluruh wilayah kota tersebut.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Konferensi Keamanan Nasional Israel yang diselenggarakan oleh Institut Studi Keamanan Nasional (INSS) bekerja sama dengan grup media Yedioth Ahronoth pada Senin lalu menampilkan sebuah paradoks yang mencolok.
Di satu sisi, Israel terus berbicara tentang berbagai pencapaian militernya. Namun di sisi lain, negara itu tampak semakin kurang percaya diri terhadap kemampuannya mengubah keberhasilan militer tersebut menjadi keamanan yang berkelanjutan.
Yang lebih mengkhawatirkan, para peserta konferensi justru menunjukkan kecemasan yang besar terhadap perpecahan internal, melemahnya dukungan Amerika Serikat, serta kemungkinan bangkitnya kembali kekuatan para lawannya.
Alih-alih menghasilkan peta ancaman yang disepakati bersama, konferensi tersebut justru memperlihatkan pertarungan antara dua pandangan yang berbeda.
Pandangan pertama meyakini bahwa keamanan dapat dicapai melalui perluasan kontrol wilayah, aneksasi, dan pembangunan permukiman Yahudi.
Sementara pandangan kedua memperingatkan bahwa perang yang terus berlangsung tanpa arah politik yang jelas hanya akan mengubah keunggulan militer menjadi beban strategis yang menguras sumber daya.
Karena itu, suasana diskusi lebih menyerupai evaluasi kritis dan introspeksi mendalam daripada perayaan kemenangan setelah hampir tiga tahun perang.
Kata-kata seperti "kegagalan", "erosi", "isolasi", dan "kekacauan" terdengar lebih sering dibandingkan istilah yang menggambarkan kemenangan atau penyelesaian konflik.
Berikut ini sejumlah kesimpulan Konferensi Keamanan Nasional Israel yang diselenggarakan oleh Institut Studi Keamanan Nasional (INSS):
Pertama, kegagalan strategis di balik keberhasilan operasional