Jakarta (ANTARA) - Pertumbuhan industri gim membuka sumber pendapatan baru bagi kreator di daerah, salah satunya Andika Yulian Saputra (21) yang mampu meraup omzet Rp24 juta dalam satu malam siaran langsung.
Mahasiswa Universitas PGRI Madiun yang dikenal dengan nama Kabol itu memperoleh pendapatan tersebut dari hadiah penonton ketika melakukan siaran langsung melalui akun TikTok @kaabol7 saat momentum Free Fire World Series Southeast Asia (FFWS SEA) 2026 Fall.
Dalam satu malam, jumlah pengikut akun Kabol juga melonjak lebih dari enam kali lipat, dari sekitar 2.000 menjadi 13.000 pengikut.
Pencapaian tersebut diraih Kabol dengan perangkat sederhana. Ia melakukan aktivitas siaran dari kamar rumahnya di Madiun hanya dengan menggunakan dua telepon seluler dan satu kipas angin.
Meski memanfaatkan momentum turnamen gim, Kabol mengaku tidak menayangkan ulang pertandingan karena menyadari adanya ketentuan mengenai hak siar dan hak cipta.
"Menyiarkan ulang itu bukan hak saya. Jadi saya nonton dulu, selesai pertandingan baru saya LIVE," kata Kabol.
Fenomena tersebut menjadi salah satu gambaran tumbuhnya kreator konten berbasis gim di daerah di tengah besarnya potensi ekonomi industri gim nasional yang mencapai sekitar Rp25 triliun.
Pemerintah sebelumnya menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2024 tentang Percepatan Pengembangan Industri Gim Nasional untuk memperkuat ekosistem industri gim, termasuk mendorong pengembang dalam negeri.
Namun, Pengamat Ekonomi Kreatif Ratna Puspitasari menilai kebijakan tersebut belum sepenuhnya menjangkau lapisan kreator yang ikut membentuk ekosistem ekonomi gim, terutama mereka yang tumbuh secara mandiri di daerah.
"Perpres itu menyasar pengembang gim. Itu benar dan memang perlu. Tapi ada lapisan kreator di bawahnya, jumlahnya jauh lebih besar dan tersebar di kota-kota kecil, yang sama sekali tidak tersentuh kebijakan apa pun," ujar Ratna.
Menurut dia, keberhasilan kreator seperti Kabol juga tidak semata-mata ditentukan oleh momentum viral, tetapi membutuhkan konsistensi dalam membangun audiens.
"Yang menahan audiens adalah keterulangan. Jam tayang yang tetap membangun kebiasaan, dan kebiasaan lebih tahan lama daripada algoritma," katanya.
Di balik peluang ekonomi tersebut, model pendapatan kreator gim juga menghadapi kerentanan karena bergantung pada platform digital dan momentum penyelenggaraan turnamen.
Kabol mengakui pendapatan besar yang diperolehnya pada bulan ini belum tentu dapat dipertahankan pada bulan berikutnya. Karena itu, ia belum menjadikan aktivitas tersebut sebagai pekerjaan utama.
"Bulan ini lumayan karena ada turnamen besar. Bulan depan belum tentu ada. Saya belum berani bilang ini pekerjaan, ini masih penghasilan tambahan," tuturnya.
Dosen Universitas PGRI Madiun Bagus Prasetyo juga mengingatkan agar mahasiswa yang memperoleh peluang ekonomi dari aktivitas digital tetap menjaga keseimbangan dengan pendidikan formal.
"Ini bukan pengganti ijazah, dan ijazah juga bukan jaminan. Keduanya aset. Mahasiswa yang punya dua-duanya berada di posisi paling aman," kata Bagus.
Kabol kini memilih mempertahankan rutinitas siaran langsungnya sembari menyelesaikan pendidikan. Ia juga belum memastikan dapat menyaksikan langsung Grand Final FFWS SEA 2026 Fall yang dijadwalkan berlangsung di Surabaya pada September 2026.
"Belum tahu bisa ke sana atau tidak. Yang pasti malam ini saya LIVE lagi, jam yang sama," ujar Kabol.
Pewarta: Antara
Uploader : M Fikri Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.