Banjarbaru (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi menekankan kecepatan respons merupakan kunci pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) guna mencegah api meluas serta menekan dampak melalui pemadaman dan dukungan sesuai kebutuhan lapangan.

“Hitungannya adalah waktu. Jam per jam, menit per menit, kita harus segera merespons. Jangan sampai api semakin luas sehingga penanganan membutuhkan waktu lebih lama dan sumber daya yang lebih banyak,” kata dia saat meninjau penanganan karhutla di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin.

Sejak dilantik sebagai Kepala BNPB, Kristomei melakukan kunjungan kerja ke sejumlah provinsi prioritas, termasuk di Kalsel untuk meninjau penanganan karhutla sekaligus mengidentifikasi kebutuhan daerah yang dapat didukung oleh pemerintah pusat.

Menurut dia, setiap menit dan jam sangat menentukan keberhasilan penanganan karhutla karena keterlambatan respons berisiko membuat api meluas ke wilayah lain, sehingga pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dan pengerahan sumber daya lebih banyak.

Melalui kunjungan itu, ia menegaskan bahwa pemerintah pusat hadir untuk melihat secara langsung langkah-langkah yang telah dilakukan pemerintah daerah, termasuk mengidentifikasi kendala dan kebutuhan tambahan untuk mendukung penanganan karhutla agar berjalan lebih efektif sesuai kondisi di lapangan.

Dia menegaskan penanggulangan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, tetapi membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, serta unsur terkait lainnya untuk mempercepat pemadaman dan mengendalikan kebakaran.

“Oleh karena itu, koordinasi dan pelaporan kondisi terkini di lapangan menjadi bagian penting dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya, sehingga dukungan pemerintah dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik wilayah yang terdampak kebakaran,” ujar Kristomei.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kepala BNPB: Respons cepat kunci pengendalian karhutla

Pewarta: Tumpal Andani Aritonang
Editor : Mahdani

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.