Jambi (ANTARA) - Oleh: Prof. Dr. Suaidi Asyari MA, Ph.D.
Seorang guru besar dalam bidang Pemikiran Politik Islam
Dua buku yang saya serahkan pada kesempatan pengukuhan lima guru besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi sesungguhnya lahir dari perjalanan akademik dan kelembagaan yang cukup panjang.
Buku pertama, Transintegrasi Ilmu Pengetahuan Upaya Menuju Peradaban Dunia Baru Melampaui Post-modernisme, berawal dari pengalaman ketika kita, UIN STS Jambi mengajukan pendirian Fakultas Kedokteran UIN STS Jambi pada tahun 2021. Prosesnya sangat tidak mudah.
Selain masih adanya moratorium, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, dan Konsil Kedokteran Indonesia menghendaki adanya distingsi yang jelas: apa yang membedakan Fakultas Kedokteran UIN Jambi dari fakultas-fakultas kedokteran yang telah ada? Padahal, jika dilihat dari rasio dokter terhadap jumlah penduduk, kebutuhan untuk memperluas pendidikan kedokteran di Indonesia sudah sangat mendesak.
Sejak proses itu, setiap diskusi, kritik, pertanyaan, dan masukan tentang Fakultas Kedokteran saya catat apa adanya. Akan tetapi, saya kemudian menyadari bahwa memiliki waktu untuk menulis tidak selalu berarti memiliki ruang untuk berpikir secara serius dan mendalam. Ada masa ketika saya dapat menulis, tetapi belum sempat berpikir secara utuh. Baru setelah masa jabatan saya sebagai Rektor berakhir, saya memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk berpikir dan menulis secara bersamaan. Dari proses tersebut saya telah menyelesaikan enam buku akademik; tiga telah diterbitkan, dan dua di antaranya hari ini berada di hadapan kita.
Karena itu, Transintegrasi Ilmu Pengetahuan pada mulanya menyediakan landasan filosofis, ontologis, epistemologis, dan aksiologis bagi gagasan pendirian Fakultas Kedokteran UIN STS Jambi. Namun perjalanan intelektual buku ini kemudian membawa saya lebih jauh: menelusuri akar dikotomi ilmu pengetahuan sekaligus dualisme kelembagaan pendidikan di Indonesia yang, menurut argumentasi buku ini, ikut menghambat akselerasi pendidikan Islam.
Salah satu proposal pentingnya adalah pembentukan Kementerian Koordinator Bidang Pendidikan, yang mengoordinasikan Kementerian Pendidikan Umum dan Kementerian Pendidikan Agama Islam (yang diusulkan). Jika perdebatan dan perjuangan transformasi IAIN menjadi UIN memerlukan waktu sekitar tiga dekade, kita berharap gagasan mengenai Kementerian Pendidikan Agama Islam tidak memerlukan waktu terlalu lama. Dan apabila suatu hari kementerian tersebut benar-benar terwujud, saya ingin kita mencatat bahwa di antara orang-orang pertama yang membaca gagasan ini-selain penulis dan editor-adalah Prof. Mukhtar, M. Pd. dan Prof. Kasful Anwar, M.Pd.
Buku kedua, Orientalism Sebelum Eward Said, merupakan bagian pertama dari trilogi saya mengenai Orientalisme. Salah satu pengalaman yang terus membekas adalah pertemuan saya dengan Edward Said pada MESA Conference di Chicago Hilton and Towers tahun 1999. Dalam percakapan tersebut, Said menyampaikan bahwa kritiknya terhadap Orientalisme tidak berarti mengabaikan seluruh kontribusi para orientalis terhadap studi Islam.
Namun, dimensi ini relatif kurang memperoleh perhatian dibandingkan pembacaan Orientalisme melalui persoalan knowledge, representation, and power yang sangat dipengaruhi perspektif Foucauldian. Akibatnya, dalam banyak ruang akademik, Orientalisme lebih sering dikenang melalui relasinya dengan kolonialisme, dominasi, dan representasi terhadap "the Other", sementara kontribusi filologis, bibliografis, historis, dan preservatif sejumlah orientalis kurang memperoleh pembacaan yang proporsional.
Padahal, secara empiris, sejarah studi Islam modern juga mencatat kontribusi penting para orientalis dalam menjaga, mengidentifikasi, mengatalogkan, menyunting, menerjemahkan, dan memperkenalkan kembali warisan intelektual Islam kepada dunia akademik. Sejumlah sarjana Eropa secara aktif menelusuri dan mengumpulkan manuskrip Arab-Islam yang kemudian tersimpan di perpustakaan-perpustakaan besar Eropa; koleksi-koleksi ini pada akhirnya menjadi sumber penting bagi penelitian sejarah, bahasa, tafsir, hadis, fikih, filsafat, kedokteran, astronomi, dan berbagai cabang ilmu Islam.
Carl Brockelmann, misalnya, melalui monumentalnya Geschichte der arabischen Litteratur, memetakan sekitar 25.000 karya dari sekitar 18.000 penulis dalam tradisi literatur Arab dan menyediakan informasi penting mengenai keberadaan manuskrip serta lokasi penyimpanannya-sebuah karya bibliografis yang terus menjadi rujukan penting bagi studi manuskrip Arab.
Tokoh-tokoh lain seperti Theodor Nöldeke dan Ignaz Goldziher, meskipun banyak pandangan mereka kemudian dikritik oleh sarjana Muslim dan non-Muslim, turut membangun tradisi kajian historis-kritis terhadap Al-Qur'an, hadis, dan sejarah pemikiran Islam yang memengaruhi perkembangan Islamic Studies modern.
Orientalism Before Said berusaha mengajak pembaca melihat Orientalisme secara lebih seimbang: kritik terhadap bias, kepentingan kolonial, dan relasi kuasa tetap diperlukan, tetapi kejujuran akademik juga menuntut pengakuan bahwa sebagian orientalis ikut menyelamatkan, mendokumentasikan, dan membuka kembali akses terhadap khazanah intelektual Islam yang tanpa kerja filologis dan katalogisasi mereka mungkin akan jauh lebih sulit ditelusuri oleh generasi ilmuwan berikutnya.
Di PTKIN, kajian Orientalisme telah diajarkan selama puluhan tahun, tetapi kita masih memerlukan referensi yang memberi ruang secara lebih proporsional kepada kompleksitas sejarahnya: kritik terhadap bias, dominasi, dan kepentingan kolonial tetap diperlukan, tetapi kontribusi ilmiah para orientalis terhadap manuskrip, bahasa, sejarah, dan studi Islam juga perlu dibaca secara kritis dan adil. Orientalism Before Said ditulis untuk membantu mengisi ruang tersebut.
Dan karena di UIN STS Jambi mata kuliah ini secara khusus tumbuh dan dikembangkan di Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA), maka pada hari ini saya merasa tepat apabila Dekan FUSA, Dr. H. Zikwan, memperoleh kehormatan menjadi salah seorang yang pertama membuka dan membaca buku ini.
Pada akhirnya, kedua buku ini berangkat dari dua persoalan yang tampaknya berbeda-dikotomi ilmu pengetahuan dan Orientalisme-tetapi bertemu pada satu kegelisahan yang sama: bagaimana perguruan tinggi Islam tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, melainkan tumbuh menjadi produsen gagasan, pembangun institusi, dan salah satu kekuatan intelektual yang ikut membentuk peradaban dunia yang akan datang.
Semoga kedua buku sederhana ini memberikan manfaat bagi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, bagi PTKIN, dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang lebih luas.
Editor : Nanang Mairiadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.