Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) mengajak perguruan tinggi memperkuat hilirisasi peternakan nasional, sehingga dapat meningkatkan daya saing dan kesejahteraan peternak rakyat.

"Hilirisasi harus memberikan manfaat nyata. Produksi harus semakin efisien, pasar semakin luas, dan nilai tambah yang dihasilkan harus dapat dirasakan oleh peternak," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan Agung Suganda, dalam keterangan terkonfirmasi di Jakarta, Selasa.

Kementerian Pertanian mengajak perguruan tinggi, alumni, dan dunia usaha memperkuat kolaborasi untuk mempercepat hilirisasi peternakan nasional.

Sinergi tersebut diperlukan agar riset dan inovasi dapat diterapkan menjadi teknologi, produk bernilai tambah, lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan peternak.

Agung mengatakan, pembangunan peternakan merupakan bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ketahanan pangan, menurutnya, tidak hanya menyangkut karbohidrat, tetapi juga kecukupan protein hewani dari daging, susu, dan telur.

"Daging, susu, dan telur berperan penting dalam pemenuhan gizi dan pembangunan generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan cerdas. Karena itu, pembangunan peternakan memiliki posisi strategis dalam pembangunan nasional," ujar Agung saat berbicara dalam seminar nasional bertajuk "Bakti Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) untuk Sukseskan Program Hilirisasi" pada rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) VI Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Unsoed di Purwokerto, Jateng.

Untuk memperkuat kontribusi tersebut, Kementan terus mendorong peningkatan produksi dan daya saing peternakan melalui penguatan pembibitan, reproduksi, pakan, kesehatan hewan, investasi, dan kemitraan dengan peternak rakyat.

Agung menekankan hilirisasi tidak boleh dimaknai sebatas membangun fasilitas pengolahan. Hilirisasi harus membentuk ekosistem yang menghubungkan produksi, teknologi, pengolahan, distribusi, dan pasar.

"Pemerataan kapasitas produksi juga menjadi perhatian pemerintah," tegasnya.

Pengembangan industri peternakan di berbagai wilayah diperlukan untuk mendekatkan sentra produksi kepada konsumen, meningkatkan efisiensi distribusi, memperkuat ketersediaan protein hewani antardaerah, dan membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Dalam upaya tersebut, perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai penghasil sumber daya manusia, riset, dan inovasi.

Karena itu, Agung mendorong agar penelitian tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi diterjemahkan menjadi teknologi dan model usaha yang mampu menjawab kebutuhan peternak dan industri.

Agung menambahkan salah satu kontribusi penting alumni adalah mendampingi peternak rakyat agar tidak hanya kuat dalam budidaya, tetapi juga mampu mengelola usaha, mengembangkan produk, dan memperluas akses pasar.

"Banyak peternak kita yang sudah sangat kuat dalam budidaya. Tantangannya adalah mendampingi mereka agar naik kelas menjadi pelaku usaha yang mampu mengelola produksi, mengakses pasar, dan memperoleh nilai tambah yang lebih baik," jelas Agung.

Menurutnya, jejaring alumni yang tersebar di pemerintahan, perguruan tinggi, BUMN, perusahaan swasta, dan berbagai bidang usaha dapat menjadi penghubung antara kebutuhan peternak, hasil penelitian, teknologi, investasi, dan pasar.

Plt Rektor Unsoed Prof Ali Rokhman menilai hilirisasi membutuhkan hubungan yang semakin kuat antara pendidikan tinggi dan dunia industri, dengan alumni sebagai salah satu penggeraknya.

"Harus ada link and match antara dunia pendidikan tinggi dan dunia industri. Alumni memiliki jejaring dan pengalaman yang dapat menjadi jembatan antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat," ujar Ali.

Ia menambahkan perguruan tinggi kini dituntut tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.

Sementara itu, Ketua Umum Kafapet Unsoed, Teguh Sudaryatno mengatakan subsektor peternakan dituntut semakin adaptif, efisien, dan inovatif dalam menghadapi perubahan serta tantangan global.

Karena itu, alumni yang berkiprah di pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, dan penelitian perlu memperkuat sinergi dengan kampus dan masyarakat.

"Seminar nasional ini bukan sekadar forum akademik, tetapi wadah strategis bagi akademisi, praktisi, dan alumni untuk merumuskan solusi nyata bagi kemajuan peternakan nasional," ujar Teguh.

Ia berharap forum tersebut dapat melahirkan gagasan baru, riset aplikatif, dan rekomendasi kebijakan yang relevan dengan kebutuhan peternak serta mendukung penguatan pangan nasional.

Munas VI Kafapet Unsoed menjadi bagian dari semangat Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 Tahun 2026.

Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, alumni, peternak, dan dunia usaha diharapkan mampu mendorong hilirisasi yang meningkatkan daya saing sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi peternak.

Baca juga: Kementan dorong transisi peternakan ayam bebas sangkar

Baca juga: Mentan permudah perizinan investor bangun peternakan sapi perah

Baca juga: Kementan perkuat tata kelola untuk optimalkan layanan peternakan

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.