Kemenag perkuat penanganan dampak gempa di NTT
Selasa, 25 Agustus 2026 06:54 WIB
Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i memimpin Rapat Koordinasi dan Pengambilan Kebijakan Strategis di Lingkungan Kementerian Agama di Jakarta, Senin (24/8/2026). ANTARA/HO-Kemenag
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama memperkuat penanganan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan fokus pada pemulihan lembaga pendidikan, rumah ibadah, kantor Kemenag, serta warga dan pegawai yang terdampak.
Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menegaskan pentingnya respons cepat dan terkoordinasi, baik terhadap masyarakat maupun aparatur Kemenag yang terdampak bencana.
“Kementerian Agama hadir. Semua langkah yang dibutuhkan agar kawan-kawan kita yang terdampak di sana tetap bisa melaksanakan tugasnya harus dikoordinasikan,” ujar Romo Syafi’i dalam Rapat Koordinasi dan Pengambilan Kebijakan Strategis di Lingkungan Kementerian Agama di Jakarta, Senin.
Baca juga: Kemhan siapkan 300--400 Komcad bantu pemulihan NTT pascagempa
Baca juga: Kemendikdasmen salurkan Rp860 juta untuk sekolah terdampak gempa NTT
Rapat koordinasi membahas sinkronisasi data lintas unit, evaluasi penanganan kelembagaan, serta tindak lanjut respons Kemenag terhadap bencana di daerah.
Gempa di Laut Flores yang terjadi pada 15 Agustus 2026 menyebabkan kerusakan pada ratusan rumah ibadah, meliputi gereja, masjid, dan vihara. Puluhan lembaga pendidikan serta sejumlah kantor Kemenag kabupaten/kota juga terdampak. Ribuan warga mengungsi setelah rumah mereka mengalami kerusakan akibat gempa.
Seiring penguatan pendataan, Kemenag menyiapkan pembelajaran darurat agar aktivitas pendidikan tetap berlangsung selama masa tanggap bencana. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) telah menerjunkan tim ke lapangan untuk melakukan penanganan awal.
Tim tersebut menyalurkan 1.010 paket bantuan darurat serta mendirikan tenda di sejumlah wilayah terdampak. Selain sebagai tempat pengungsian, tenda disiapkan sebagai ruang kelas sementara sehingga kegiatan belajar mengajar dapat dilakukan secara bergilir.
Penguatan respons Kemenag dilakukan dengan memperbarui data kondisi di lapangan. Kemenag bersama jajaran Bimbingan Masyarakat (Bimas) dan Kantor Wilayah Kemenag NTT terus melakukan asesmen terhadap madrasah, fasilitas pendidikan, dan rumah ibadah lintas agama.
Asesmen dilakukan di lima kabupaten terdampak. Seluruh informasi dihimpun melalui pusat data satu pintu yang dikoordinasikan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan kementerian terkait.
Pusat data tersebut menjadi dasar untuk memastikan kondisi lapangan terpetakan secara akurat, sekaligus menentukan kebutuhan dan prioritas penyaluran bantuan.
Selain fasilitas pendidikan dan rumah ibadah, Kemenag juga memetakan dampak bencana terhadap aparatur. Data terbaru mencatat 497 ASN Kemenag terdampak di wilayah Pulau Flores dan Pulau Timor.
Kemenag kini menyiapkan skema bantuan dana tanggap bencana bagi ASN yang rumahnya mengalami kerusakan parah.
Dengan pemutakhiran data dan penyediaan ruang belajar sementara, Kemenag berupaya memastikan bencana tidak menghentikan keberlangsungan pendidikan. Penanganan madrasah terdampak dilakukan melalui asesmen kerusakan, penyaluran bantuan, dan pemulihan kegiatan belajar mengajar secara beriringan.
Langkah tersebut menjadi pijakan bagi Kemenag dalam menentukan kebutuhan pemulihan madrasah secara lebih terukur setelah masa tanggap darurat berakhir.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemenag perkuat penanganan dampak gempa di NTT
Pewarta : Asep Firmansyah
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026