Keluarga dan sahabat antar Den Baguse Ngarso ke peristirahatan terakhir

Selasa, 22 September 2026 22:05 WIB

Image Print

Arwani Prayidina istri alhamrhum Susilo Nugroho atau Den BaguseNgarso (memagang patok salip) melakukan foto bersama keluarga seusai pemakaman di TPU Krapyak , Bantul, Selasa (22/9/2026). ANTARA/Nur Istibsaroh

Yogyakarta (ANTARA) - Raut wajah duka dari sejumlah keluarga dan sahabat terlihat mengiringi prosesi pemakaman seniman pendiri Teater Gandrik Susilo Nugroho atau yang akrab disapa Den Baguse Ngarso di tempat peristirahatan terakhirnya TPU Krapyak, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Selasa.

Sejumlah karangan bunga duka cita dari berbagai pihak mulai dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Wagub KGPAA Paku Alam X, para putri Keraton Yogyakarta, hingga civitas akademika, serta komunitas seni memenuhi hampir seluruh tanah makam dengan patok salib bertuliskan RIP Susilo Nugroho lahir 05-01-1959, wafat 21-09-2026 itu.

Istri almarhum Awani Pratidina beserta kedua anaknya Tantida Isa dan Deya Lirisa terlihat tak kuasa menahan duka saat menyaksikan rangkaian prosesi penurunan peti jenazah ke liang lahat, dengan berulangkali harus menyeka air mata dan terisak.

Awani menceritakan dirinya mulai merasa curiga ketika suaminya tak kunjung bangun hingga siang hari dengan posisi tidur yang tidak berubah.

"Bapak memang biasanya bangun tidurnya siang jam 12 siang, karena kalau tidur biasanya baru jam 3 kadang jam 3.30 pagi. Malam biasanya dipakai ngumpul sama teman-temannya, makan mie, nah kemarin itu, kok belum bangun dan posisi tidurnya sama miring ke kanan, akhirnya saya telepon anak laki-laki untuk mengecek," katanya.

Rasa terkejut dan tidak percaya juga dirasakan oleh anak pertama almarhum, Tantida Isa yang menerima berita duka tersebut, saat dalam perjalanan pulang kerja.

“Saya dapat kabar bapak tidak ada, itu saat lagi di jalan pulang dari kerja dan mau mampir ke supermarket. Kaget karena kemarin tidak kenapa kenapa, terus posisi bapak kan juga lagi tidur ya, tidak ada firasat apa-apa," cerita Isa.

Isa yang selama ini bekerja dan menetap di luar kota pun langsung bergegas pulang ke Yogyakarta.

"Akhir-akhir ini kan saya sering buat video sama bapak, nah kemarin itu hanya tumben, WhatsApp saya kok belum dibalas, terus ada kabar bapak meninggal, syok dan langsung pulang ke Jogja," kata Isa dengan mata sembab.

Kesan mendalam akan kepribadian almarhum yang ramah kepada siapa pun turut disampaikan oleh sang adik ipar almarhum, Ratih beserta suaminya Yadi saat ditemui seusai pemakaman.

"Kita semua bisa melihat Mas Susilo itu kebapakan, ngasuh gitu loh, ngemong, dan sederhana. Kepada siapa pun humble, mau menyapa orang di jalan walaupun mungkin orang itu enggak dikenalnya. Beliau low profile banget, tidak sombong," kata Ratih dan Yadi saling melengkapi,

Pasangan yang tinggal di Jakarta tersebut mengenang almarhum sebagai sosok yang sangat perhatian almarhum kepada keluarga dan siapa pun tanpa membeda-bedakannya.

Kehangatan dan kebaikan almarhum semasa hidup pun berbekas hingga akhir hayatnya, saat peziarah sudah meninggalkan lokasi pemakaman, tampak tiga remaja putri berjilbab bertahan dan duduk berdoa di depan makam.

"Kami dulu muridnya Bapak saat kami SMEA," kata ketiganya bersamaan.

Pewarta : V001 dan Nur Istibsaroh
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026