Lombok Tengah (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Dinas Kebudayaan mendorong setiap kampung adat memiliki sistem perlindungan bencana sebagai upaya menjaga warisan budaya dari ancaman kebakaran atau bencana alam lainnya.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengatakan sistem perlindungan bencana sangat penting mengingat sebagian besar bangunan di kawasan kampung adat menggunakan bahan mudah terbakar, seperti kayu, bambu, dan daun ilalang.
"Kampung adat seharusnya punya sistem perlindungan bencana yang tidak hanya untuk kebakaran, tetapi juga gempa bumi dan hujan lebat," ujar dia saat ditemui usai meninjau kondisi pasca kebakaran di Kampung Adat Sade, Lombok Tengah, Minggu.
Ihwan memandang kawasan heritage tidak cukup hanya memiliki bangunan dan lingkungan tradisional yang dipertahankan, tetapi juga harus dilengkapi sistem mitigasi bencana yang memadai.
Sistem mitigasi tersebut antara lain berupa jalur pipa air atau fire hydrant untuk penanganan kebakaran dan juga alarm sebagai peringatan dini.
Ia menyebut sistem mitigasi bencana menjadi bagian penting dalam menjaga keberadaan kampung adat sebagai kawasan pelestarian budaya lokal.
"Kampung adat memiliki kerentanan terhadap api, maka kampung adat harus punya jalur-jalur pipa untuk air. Kampung Adat Sade sekarang tidak ada pipa untuk air," ungkap Ihwan.

Lebih lanjut, dia menyampaikan Kampung Adat Sade memiliki nilai penting bagi kebudayaan Nusa Tenggara Barat karena tidak hanya mempertahankan rumah tradisional, tetapi juga berbagai praktik dan pengetahuan budaya masyarakat Sasak, termasuk tradisi tenun dan kearifan lokal.
Dinas Kebudayaan NTB berkomitmen tetap mempertahankan kawasan Sade saat proses rekonstruksi ulang nanti sebagai kampung sebuah adat yang menyuguhkan kehidupan tradisional penduduk Suku Sasak.
"Mereka kalau bisa tinggal di tempat lain, tapi kampung ini dipertahankan sebagai sebuah dusun adat dengan kehidupan tradisional yang dipertahankan," pungkas Ihwan.
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Kampung Adat Sade mengalami kebakaran sekitar pukul 22.00 WITA pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026.
Sejumlah saksi mata menceritakan api pertama kali muncul dari salah satu rumah di tengah permukiman adat tersebut. Api kemudian merembet ke sejumlah rumah lainnya yang sebagian besar menggunakan bahan mudah terbakar, seperti kayu, bambu, dan ilalang.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, sebanyak 89 rumah mengalami rusak berat akibat kebakaran tersebut.
Api berhasil dipadamkan pada Minggu sekitar pukul 05.00 WITA setelah tim gabungan melakukan pemadaman sepanjang malam. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.
Baca juga: NTB inventarisasi artefak terdampak kebakaran Kampung Adat Sade
Baca juga: Kebakaran Sade jadi alarm proteksi warisan budaya NTB
Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.