Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Xi Jinping buka suara imbas banjir bandang dan longsor yang menghantam China serta Nepal pada Rabu (26/8).

Xi meminta semua petugas bekerja semaksimal mungkin untuk mencari kobran yang hilang imbas bencana tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"[Saya] menyerukan upaya untuk mengevakuasi warga yang berisiko dan memberikan perawatan medis tepat waktu kepada yang terluka untuk meminimalkan korban jiwa," demikian laporan kantor berita China Xinhua, menurut pernyataan Xi.

Xi juga menekankan penting memperkuat pemantauan dan peringatan dini, memastikan operasi penyelamatan, dan mencegah bencana sekunder.

Mengingat China saat ini berada dalam periode kritis pengendalian banjir, Xi mendesak pemerintah daerah dan departemen terkait bersiap menghadapi skenario terburuk dan situasi ekstrem.

Dia juga meminta pihak terkait menerapkan langkah-langkah pencegahan banjir dan topan, serta meningkatkan upaya untuk mengidentifikasi dan mengatasi potensi risiko dan bahaya.

Sementara itu, Perdana Menteri Li Qiang juga menyerukan verifikasi segera soal jumlah orang yang hilang dan terdampak serta upaya penyelamatan dan bantuan secara menyeluruh.

Li juga meminta Kementerian Luar Negeri untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan negara-negara terkait, segera berbagi informasi, dan bekerja sama guna menangani upaya penyelamatan dan bantuan dengan tepat.

Banjir dan longsor menerjang wilayah di kaki Gunung Himalaya pada Rabu.

Pilihan Redaksi

  • Kala Jet Tempur J-16 China 'Bentrok' dengan Rafale Milik Mesir
  • AS Kirim 1 Kapal Induk Lagi ke Timteng Perangi Iran 7 Bulan ke Depan
  • 165 Orang Tewas & 1.384 Hilang Imbas Banjir Bandang di Nepal-Tibet

Video yang beredar di media sosial menunjukkan banjir bandang menghantam gedung-gedung, rumah, jalan dan proyek pembangunan. Imbas kejadian ini pula banyak rumah dan kendaraan yang terendam longsor.

Badan Bencana Nepal melaporkan 826 orang belum bisa dihubungi hingga Kamis, lebih dari 24 jam setelah bencana. Dari jumlah tersebut, 600 di antaranya turis asing.

Mereka yang hilang mencakup 177 warga India, 63 warga Amerika Serikat, 34 Australia, 33 Inggris, dan 25 Kanada.

Menurut pemerintah China sebanyak 558 hilang di sisi perbatasan Tibet. Dari jumlah ini, 260 di antaranya warga asing. Jika diakumulasikan, angka dari pihak berwenang Nepal dan China maka total orang hilang mencapai 1.384.

Sejauh ini belum bisa dipastikan apakah jumlah orang hilang itu terpisah atau ada yang dihitung dua kali. Sementara itu, jumlah korban tewas imbas bencana tersebut 165.

(isa/rds)

placeholder