Kota Jambi (ANTARA) - Balai Taman Nasional (TN) Berbak dan Sembilang memastikan titik api akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut mulai berkurang akibat hujan yang mengguyur sejumlah kawasan di Sumatera Selatan dan Jambi dalam beberapa hari terakhir.

"Ini cukup menggembirakan bagi kami, dengan turunnya hujan kemarin, beberapa hotspot yang sulit dipadamkan otomatis padam walaupun di lapangan masih ada asap (karhutla) seperti itu," kata Kepala Balai TN Berbak dan Sembilang Yunaidi di Jambi, Rabu.

Ia menjelaskan hujan yang terjadi dalam tiga hari terakhir berhasil menurunkan jumlah titik panas (hotspot).

Hujan deras terjadi di kawasan Resort Tanah Pilih (Sumsel) serta wilayah Labuhan Pering (Jambi) yang berada di perbatasan Sumsel dan Jambi. Sementara itu hujan dengan intensitas ringan juga membasahi Desa Sungai Palas, Kecamatan Nipah Panjang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Berdasarkan pemantauan terkini, hotspot di wilayah tersebut berada pada level sedang (medium). Meskipun api di permukaan diperkirakan sudah tidak terlihat, namun potensi kepulan asap dari bawah permukaan tanah masih terus ada.

Data dari aplikasi Sipongi per hari ini (23/9) menunjukkan terdapat sembilan titik panas berstatus level sedang (berwarna kuning) di kawasan Berbak serta dua titik panas di wilayah TN Sembilang.

Yunaidi mengungkapkan kebakaran di kawasan TN Berbak dan Sembilang merupakan peristiwa yang berulang di lokasi yang sama, sebagaimana pernah terjadi pada kebakaran tahun 2015 dan 2019.

Lahan yang terbakar didominasi vegetasi alang-alang dan paku-pakuan yang mengering akibat cuaca kemarau, sehingga sangat mudah memicu timbulnya api.

Dia mengakui selama ini proses pemadaman di lapangan menghadapi kendala serius, akibat sulitnya akses menuju lokasi kebakaran serta minimnya ketersediaan air.

Kendala itu diperparah oleh karakteristik tanah gambut yang membutuhkan proses pendinginan hingga 13 hari secara terus-menerus untuk memastikan api di lapisan dalam benar-benar padam.

Terkait pemicu kebakaran, Yunaidi menegaskan faktor aktivitas manusia menjadi penyebab utama. Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 99 persen kejadian karhutla disebabkan oleh faktor sengaja dibakar, sedangkan faktor alam seperti sambaran petir memiliki persentase yang sangat kecil.

Indikasi kesengajaan tersebut ditemukan di Desa Rantau Rasau, Kecamatan Berbak, dimana lokasi bekas kebakaran telah ditanami jagung saat tim petugas tiba di lapangan.

Sementara itu untuk kasus kebakaran di Dusun Sungai Palas, Nipah Panjang, api awalnya berasal dari luar kawasan yang kemudian merembet masuk akibat tertiup angin kencang.

"Berdasarkan hasil penelitian, 99 persen itu dibakar. Kalau alam kecil sekali kemungkinan terbakar kecuali petir. Contoh di Desa Rantau Rasau, Kecamatan Berbak, kebakaran di sana sengaja di bakar, buktinya saat tim datang lokasi bekas kebakaran sudah ditanam jagung," ungkapnya.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Hujan tiga hari beruntun, karhutla di TN Berbak & Sembilang berkurang

Pewarta: Agus Suprayitno
Editor : Siri Antoni

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.