Gorontalo (ANTARA) - Dalam pembuatan karawo ikat, serat kain diiris dan dicabut satu per satu untuk memberi ruang bagi benang. Setelah itu, tiap helai benang diarahkan dengan hati-hati. Satu tusukan jarum belum tentu langsung menyelesaikan satu lubang pada kain. Benang dapat melewati lubang yang sama beberapa kali sebelum diikat sesuai pola hingga membentuk motif.
Semua proses dikerjakan dengan tangan. Pekerjaan ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran karena satu kesalahan dapat mengubah pola yang sedang dibuat.
Karawo merupakan sulaman tangan khas Gorontalo yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Di Gorontalo dikenal karawo ikat dan karawo manila yang memiliki teknik pengerjaan berbeda.
Bagi Erawati Bouta, karawo ikat bukan keterampilan baru. Sejak kecil, ia belajar membuat karawo ikat dari keluarganya di rumah. Namun, ia baru menekuninya lebih serius pada 2019 dengan tujuan melestarikan karawo sekaligus menciptakan peluang ekonomi. Pada 2023, kegiatan tersebut mulai dikembangkan menjadi usaha.
Kini, empat perajin mengerjakan karawo ikat di rumah Erawati di Kabila, Kabupaten Bone Bolango. Sebagian besar sudah berusia lanjut.
Membuat satu kain karawo ikat membutuhkan waktu lama. Jika dikerjakan hampir sepanjang hari, satu kain dapat selesai sekitar sebulan. Namun, jika diselingi pekerjaan lain, prosesnya bisa mencapai tiga bulan.
Waktu pengerjaan yang panjang membuat tidak banyak orang tertarik menjadi perajin. Keterampilan yang membutuhkan ketelitian tinggi itu juga belum selalu sebanding dengan upah yang diterima perajin. Erawati membayar sekitar Rp400.000 hingga Rp450.000 untuk pengerjaan satu lembar kain.
Perajin membuat karawo pada acara "Mokarawo Kolosal" yang digelar selama "Hulonthalo Art and Craft Festival (HARFEST) X" dan Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2026 di Kota Gorontalo, Gorontalo (12/9/2026). (ANTARA/Faradila Alim)
"Supaya keterampilan mereka betul-betul dihargai," kata Erawati.
Menjaga karawo tetap terjangkau
Erawati memilih kain katun Prince dan benang jahit katun. Ia tidak menggunakan poliester, benang metalik, atau benang yang mudah rapuh karena tidak sesuai dengan teknik karawo ikat.
"Tidak pakai poliester. Ini tetap katun," ujarnya.
Erawati sebenarnya bisa menggunakan sutra, tetapi harganya akan membuat karawo semakin sulit dijangkau.
Satu kain karawo dijual sekitar Rp600.000 hingga Rp1 juta, tergantung ukuran, panjang kain, dan kerumitan motif. Jika dijadikan pakaian, harganya bertambah karena biaya jahit.
Menurut Erawati, karawo tidak seharusnya hanya bisa dimiliki kalangan tertentu. Ia ingin karawo tetap digunakan masyarakat Gorontalo.
Menjaga identitas budaya
Motif menjadi bagian penting dalam karawo. Erawati tidak ingin karawo kehilangan ciri Gorontalo hanya karena mengikuti perkembangan mode. Bentuk dan susunan motif dapat berkembang, tetapi karakter dasarnya tetap harus dikenali, katanya.
Bunga menjadi salah satu motif yang digunakan. Selain itu, ia membuat motif burung dan pola geometris sesuai gagasan perajin.
Setiap perajin dapat menghasilkan bentuk yang berbeda karena karawo dikerjakan secara manual.
"Pada karawo ikat itu ada rasanya para perajin dalam setiap tusukan dan irisannya karena dibuat manual," katanya.
Karawo ikat memiliki sejarah panjang dalam masyarakat Gorontalo. Dahulu benangnya bahkan ditenun sendiri dan kerajinan ini banyak digunakan oleh kalangan kerajaan dan bangsawan. Kini, karawo digunakan untuk pakaian dan berbagai produk lainnya.
Dari Gorontalo ke Jepang
Pada 2023, Erawati mendapat kesempatan membawa karawo ikat ke Jepang melalui sebuah pameran. Di sana, ia melihat masyarakat menghargai produk yang dibuat dengan tangan.
Pihak yang mengundangnya juga menguji kemungkinan membuat karawo ikat dengan mesin. Namun, percobaan itu tidak berhasil.
Menurut Erawati, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sejumlah tahapan karawo ikat masih sulit digantikan oleh mesin, mulai dari mengiris serat, menentukan bagian yang dicabut, hingga mengikat benang satu per satu.
Ia kemudian mengembangkan produk lain, salah satunya sapu tangan karawo yang kini dikirim ke Jepang dan mendapat permintaan di sana. Di negara itu, sapu tangan tersebut antara lain digunakan untuk membungkus koin dan hadiah.
Erawati mengatakan pasar yang lebih luas tidak berarti karawo harus semakin mahal. Ia tetap ingin karawo digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Gorontalo. Menurutnya, semakin banyak karawo digunakan, semakin besar peluang perajin untuk terus bekerja.
Mencari generasi perajin berikutnya
Di balik peluang tersebut, Erawati menghadapi persoalan lain: regenerasi.
Empat perajin yang bekerja bersamanya sebagian besar sudah berusia lanjut. Ketika mereka tidak lagi mampu membuat karawo, belum tentu ada perajin baru yang siap meneruskan pekerjaan tersebut.
Karena itu, Erawati mulai mengenalkan karawo kepada anak-anak di sekolah tempatnya mengajar, SDN 4 Suwawa Tengah.
Siswa kelas 4, 5, dan 6 diperkenalkan pada proses mengiris kain hingga menyulam. Sementara itu, siswa kelas lainnya belajar mengenal motif dan membuat produk sederhana seperti gantungan kunci dan hiasan.
Menurut Erawati, anak-anak tidak harus langsung menjadi perajin. Yang penting, mereka mengenal bagaimana karawo dibuat.
Dalam praktik itu, mereka belajar bahwa satu lubang tidak bisa dikerjakan terburu-buru. Kesalahan saat mengiris kain dapat memengaruhi hasil akhir, sementara ketidaktelitian pada satu bagian motif dapat merusak keseluruhan pekerjaan.
Bagi Erawati, pelestarian karawo tidak cukup dengan menyebutnya sebagai identitas Gorontalo. Harus ada orang yang masih mau membuatnya dan memahami proses di balik setiap kain.
Ia berharap pemerintah ikut mendorong penggunaan dan produksi karawo, antara lain dengan mengajak masyarakat Gorontalo menggunakannya secara berkala.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Karawo ikat Gorontalo: Menjaga identitas budaya, menggerakkan ekonomi
Pewarta: Faradila Alim
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.