REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Maraknya konten lucu bersama anak di media sosial memang kerap menarik perhatian warganet. Namun konten tersebut memunculkan indikasi bentuk eksploitasi yang tidak disadari oleh orang tua.
Konten yang diunggah secara tidak langsung membagikan informasi, foto, video, atau cerita tentang anak yang kemudian disebut dengan istilah sharenting. Di balik narasi mengabadikan kenangan dan berbagi cerita tentang tumbuh kembang anak, terselip sebuah tujuan untuk menghasilkan konten yang memiliki nilai ekonomi.
Fenomena ini kemudian diteliti oleh lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim Teman Tumbuh Program Kreativitas Mahasiswa Riset Humaniora (PKM-RSH). Ketua Tim Teman Tumbuh, Phedra Annabelle, mengatakan perkembangan platform digital membuat konten yang melibatkan anak memiliki nilai ekonomi. Menurutnya, anak dapat menjadi bagian dari strategi konten yang menghasilkan keuntungan melalui berbagai mekanisme monetisasi.
Menurut Phedra, platform salah satu media sosial, tidak hanya menjadi tempat untuk membagikan video. Melalui engagement, kerja sama dengan merek, program afiliasi, hingga berbagai bentuk monetisasi lainnya, sebuah video dapat memiliki nilai ekonomi.
"Dalam situasi ini, anak tidak lagi sekadar menjadi sosok yang muncul di dalam video. Anak dapat berubah menjadi bagian dari strategi konten, bahkan menjadi aset digital yang membantu menghasilkan keuntungan," kata Phedra dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (30/9/2026).
Tim peneliti mengungkap tiga peran utama anak yang paling banyak ditemukan pada praktik eksploitasi tersembunyi (hidden exploitation). Pertama, anak berperan sebagai pengguna atau konsumen produk, misalnya dengan menggunakan atau berinteraksi langsung dengan produk yang ditampilkan.
Kedua, anak menjadi aktor cilik yang mengikuti alur atau skenario tertentu dalam konten. Ketiga, anak menjadi pemberi testimoni, ketika pengalaman, ucapan, atau reaksinya digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu produk layak digunakan atau dibeli.
Menurut Phedra, orang tua tentu memiliki peran penting dalam pengasuhan dan keputusan mengenai anak. Akan tetapi, anak juga memiliki hak atas privasinya sendiri. Kemudian, teknologi membuat batas tersebut menjadi semakin rumit.
Foto dan video yang awalnya hanya ingin dibagikan kepada keluarga dan dibuat untuk hiburan dapat tersebar lebih luas dan memperoleh jutaan penonton. Informasi yang tampak sederhana hari ini dapat menjadi bagian dari jejak digital anak selama bertahun-tahun.
"Bagi kami, persoalannya bukan tentang melarang orang tua membagikan momen bersama anak, tetapi tentang memastikan apakah hak dan privasi anak tetap diperhatikan dalam prosesnya," ujar Phedra.