asiawebawards.com
  • 2026-07-28 08:43:35 +0000 UTC

    Jul 28, 2026

    Kanvas mimpi: Ketika anak-anak panti asuhan siajak menggambar masa depan - ANTARA News Megapolitan

    Depok (ANTARA) - Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Generasi Z, mulai dari kesepian, tekanan akademik, hingga derasnya interaksi digital, sebuah kanvas kosong ternyata mampu menjadi ruang lahirnya harapan.

    "Pendekatan ini sejalan dengan berbagai kajian psikologi perkembangan yang menunjukkan bahwa kemampuan anak untuk memvisualisasikan tujuan hidup sejak dini berkontribusi terhadap peningkatan motivasi belajar, optimisme, serta self-efficacy dalam menghadapi tantangan kehidupan,” ujar Pengurus Yayasan Ruang Karya Berdampak (RKD), Andhita Yukihana R, dalam keterangannya, Selasa.

    Melalui program “Kanvas Mimpi”, Lembaga Sosial Jejak Baik mengajak anak-anak Panti Asuhan Domyadhu, Pondok Gede, untuk melakukan sesuatu yang sederhana, namun memiliki makna mendalam yaitu menggambar impian mereka di masa depan.

    Kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan pada Bulan Juli 2026 ini tidak berhenti pada pemberian bantuan pangan dan donasi. Jejak Baik memilih menghadirkan pengalaman yang memberi ruang bagi setiap anak untuk didengar, dihargai, dan dipercaya bahwa mereka memiliki masa depan yang layak diperjuangkan.

    Program tersebut menjadi bagian dari komitmen Jejak Baik dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara sosial, emosional, dan penuh empati.

    Sesi utama bertajuk “Kanvas Mimpi” mengajak setiap anak menggambarkan cita-cita yang ingin mereka raih, kemudian mempresentasikan makna di balik gambar tersebut di hadapan teman-temannya.

    Melalui aktivitas sederhana itu, anak-anak belajar mengungkapkan gagasan, melatih keberanian berbicara, sekaligus membangun keyakinan bahwa latar belakang kehidupan tidak menentukan batas mimpi seseorang.

    Keceriaan terlihat ketika setiap anak dengan bangga menjelaskan gambar yang mereka buat. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, guru, polisi, pengusaha hingga atlet. Yang lebih penting dari profesi tersebut adalah tumbuhnya keyakinan bahwa mereka memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan kesempatan yang sama untuk meraihnya.

    “Di era media sosial, interaksi tatap muka justru semakin penting. Sebuah penelitian terhadap Generasi Z menunjukkan bahwa hampir 79% responden lebih memilih interaksi langsung dibandingkan komunikasi melalui media sosial, terutama ketika membicarakan persoalan pribadi, akademik, hubungan sosial, maupun cita-cita. Interaksi tatap muka dinilai lebih jujur, membangun kedekatan emosional, serta memudahkan seseorang merasa dipahami, “ seru Wiratri Anindhita, pengurus YRKD.

    Temuan tersebut semakin menguatkan filosofi Jejak Baik bahwa perubahan sosial tidak hanya dibangun melalui teknologi, tetapi juga melalui perjumpaan antarmanusia yang penuh empati.

    “Pandangan ini juga diperkuat oleh riset terbaru Stanford University (2025) yang menunjukkan bahwa hubungan sosial yang bermakna menjadi salah satu faktor terpenting bagi kesehatan mental dan kesejahteraan Generasi Z. Ketika anak muda merasa terhubung dengan orang lain melalui aktivitas nyata, rasa memiliki (sense of belonging), optimisme, dan kepedulian sosial ikut meningkat,” tambah Andhita Yukihana R, yang juga dosen tetap di program Vokasi UI.

    Bagi Putie Hikari, Founder Jejak Baik sekaligus siswi Binus School Bekasi, kegiatan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar kegiatan sosial.

    “Ketika saya kembali bersekolah, setelah liburan semester, kegiatan ini justru mengingatkan saya kembali pada mimpi-mimpi yang ingin saya capai. Saat melihat adik-adik menggambar cita-cita mereka, saya menyadari bahwa mimpi hanya akan berarti jika juga membawa manfaat bagi orang lain. Saya ingin membuktikan bahwa anak muda tidak perlu menunggu dewasa, lulus kuliah, atau memiliki banyak uang untuk mulai berbagi. Kepedulian selalu bisa dimulai dari waktu, perhatian, dan keberanian untuk hadir bagi sesama," katanya.

    Menurut Putie, Jejak Baik dibangun atas keyakinan sederhana bahwa usia bukanlah syarat untuk menjadi agen perubahan. Justru ketika budaya berbagi ditanamkan sejak remaja, akan tumbuh generasi yang tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga bertanggung jawab terhadap masyarakat.

    Relawan Jejak Baik, Ahmad Fikri Safa, mahasiswa Universitas Brawijaya, mengaku kegiatan tersebut memberikan perspektif baru mengenai makna pengabdian.

    “Saya merasa sangat bersyukur dapat menjadi bagian dari kegiatan ini. Dengan pendekatan yang sederhana, saya justru belajar banyak dari anak-anak dan lingkungan yang sebelumnya belum pernah saya temui. Saya berharap setiap langkah kecil yang kami lakukan benar-benar menghadirkan manfaat nyata bagi mereka.”

    Jejak Baik merupakan lembaga sosial di bawah naungan Yayasan Ruang Karya Berdampak (RKD) yang digerakkan oleh anak-anak muda dengan fokus pada pendidikan karakter, kepedulian sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Berangkat dari keyakinan bahwa setiap orang mampu menjadi bagian dari perubahan, Jejak Baik terus menghadirkan program-program berbasis edukasi, kerelawanan, dan penguatan nilai kemanusiaan.

    Pewarta: Feru Lantara
    Uploader : Naryo

    COPYRIGHT © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    2026-07-28 08:43:35 +0000 UTC