asiawebawards.com
  • 2026-08-05 04:59:00 +0000 UTC

    Aug 05, 2026

    KAI Layani 13.920 Ton Pupuk hingga Juli 2026, Perkuat Rantai Pasok Pertanian dan Ketahanan Pangan

    Volume angkutan pupuk pada Juli 2026 mencapai 1.800 ton atau lima kali capaian Juli 2025 untuk mendukung ketersediaan sarana produksi pertanian

    Jakarta (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat perannya dalam rantai pasok pertanian nasional melalui pelayanan angkutan pupuk menggunakan kereta api. Peran tersebut menjadi semakin penting di tengah perhatian masyarakat terhadap perkembangan harga beras dan kebutuhan menjaga ketersediaan pangan bagi keluarga Indonesia.

    Badan Pusat Statistik mencatat beras menjadi salah satu komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi pada Juli 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian harga pangan membutuhkan kerja bersama, mulai dari ketersediaan sarana produksi bagi petani, kelancaran distribusi, peningkatan produksi, penguatan cadangan, hingga penyaluran pangan kepada masyarakat.

    Sepanjang Januari–Juli 2026, KAI melayani angkutan pupuk sebanyak 13.920 ton, meningkat 2,43 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 13.590 ton.

    Peningkatan lebih besar tercatat pada periode bulanan. Pada Juli 2026, KAI melayani 1.800 ton pupuk, atau lima kali lipat dibandingkan Juli 2025 sebanyak 360 ton. Secara persentase, volume angkutan pupuk pada Juli 2026 meningkat 400 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, distribusi pupuk merupakan salah satu mata rantai penting dalam proses produksi pangan. Pupuk yang tersedia sesuai kebutuhan dan waktu pemupukan membantu petani menjaga produktivitas lahan serta merencanakan masa tanam dengan lebih baik.

    “Perhatian masyarakat terhadap harga beras perlu dijawab melalui kerja yang terukur dari hulu hingga hilir. KAI mengambil peran pada sisi logistik dengan menjaga pelayanan angkutan pupuk agar rantai distribusi sarana pertanian berjalan lancar, aman, dan memiliki kepastian jadwal,” ujar Anne.

    Pemerintah pada 2026 mengalokasikan pupuk bersubsidi sebanyak 9,55 juta ton. Hingga 25 Juni 2026, realisasi penyalurannya telah mencapai 54,28 persen. Pemerintah juga telah menurunkan Harga Eceran Tertinggi pupuk bersubsidi sekitar 20 persen sejak akhir 2025 sebagai langkah menekan biaya produksi petani dan menjaga daya saing sektor pertanian.

    Menurut Anne, kebijakan pemerintah dalam penyediaan pupuk perlu didukung jaringan transportasi dan logistik yang andal. Kereta api memiliki kapasitas angkut besar, jadwal perjalanan yang terencana, serta mampu melayani pengiriman dalam jumlah massal secara konsisten.

    “Sinergi pemerintah, BUMN, produsen pupuk, pelaku logistik, pemerintah daerah, dan kelompok tani diperlukan agar pupuk tersedia sesuai kebutuhan. KAI siap menjalankan tugas pada rantai logistik melalui pengelolaan perjalanan yang mengutamakan keselamatan dan keandalan,” kata Anne.

    Pada sisi hilir, pemerintah juga mempercepat penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan serta bantuan pangan beras kepada masyarakat. Langkah tersebut berjalan bersama kebijakan penguatan produksi pertanian dan distribusi sarana produksi sebagai bagian dari upaya menjaga pasokan serta daya beli masyarakat.

    Anne menegaskan bahwa angkutan pupuk merupakan bagian dari ekosistem besar ketahanan pangan. Ketersediaan beras dan kestabilan harganya dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti musim, produktivitas, biaya produksi, distribusi, kondisi pasar, serta cadangan pangan.

    “KAI memahami bahwa beras berada di meja makan jutaan keluarga setiap hari. Di balik proses tersebut terdapat petani yang menyiapkan lahan, pekerja yang menjaga produksi, dan banyak pihak yang memastikan distribusi berjalan. Setiap perjalanan pupuk yang KAI layani membawa tanggung jawab untuk mendukung keberlanjutan produksi pangan Indonesia,” tutup Anne.

    Pewarta: PR Wire
    Editor: PR Wire
    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    2026-08-05 04:59:00 +0000 UTC