Kabupaten Sigi perkuat kerja sama dengan GIZ kembangkan komoditas kakao
Kamis, 27 Agustus 2026 20:09 WIB
Wakil Bupati Sigi Samuel Yansen Pongi (kemeja kuning) saat melihat Duta Besar Jerman (kiri) menikmati olahan gula merah secara langsung di Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulteng, Kamis (27/8/2026). ANTARA/Moh Salam
Sigi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), memperkuat kerja sama dengan Badan Kerja Sama Internasional Jerman (GIZ) untuk membantu pemerintah daerah melakukan hilirisasi komoditas pertanian unggulan seperti Kakao di Kecamatan Palolo.
"Jadi GIZ mengintervensi dari tingkat budi daya hingga pascapanen yakni fermentasi, pengeringan, dan sortir biji kakao. Peningkatan mutu di tingkat hulu merupakan syarat mutlak agar komoditas lokal siap diolah menjadi produk olahan bernilai tambah tinggi di tingkat hilir," kata Wakil Bupati Sigi Samuel Yansen Pongi saat ditemui awak media di Palolo, Sigi, Kamis.
Ia mengatakan GIZ selama ini memberikan pendampingan dan memfasilitasi sertifikasi keberlanjutan bagi ribuan petani kakao.
"Tentunya sertifikasi ini membuka jalan bagi komoditas kakao di Sigi untuk menembus rantai pasok industri skala besar dan pasar internasional dengan standar ekologi yang ketat," ujar dia.
Ia mengatakan perusahaan milik Pemerintah Jerman itu terus memperkuat kelembagaan kelompok tani setempat sehingga penguatan tersebut mencakup manajemen bisnis agrikultur, pengelolaan unit pengolahan pascapanen mandiri, hingga negosiasi harga.
"GIZ aktif membangun kemitraan antara petani dengan pihak swasta seperti public private partnership, model itu memastikan hasil panen petani langsung terserap oleh rantai industri hilir tanpa bergantung penuh pada rantai tengkulak tradisional," ujar dia.
Menurut dia, wilayah Palolo menjadi percontohan pengintegrasian produktivitas ekonomi dan keberlanjutan lingkungan melalui hilirisasi komoditas kakao.
"Jadi kawasan Palolo memiliki keunggulan sebagai salah satu wilayah pengembangan pertanian dan perkebunan unggulan daerah," katanya.
Samuel mengatakan kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian berkelanjutan.
"Tentunya ini didukung dengan kondisi agroklimat yang mendukung, sumber daya alam yang tersedia, serta pengetahuan masyarakat dalam mengelola sektor pertanian di daerah tersebut," kata Samuel.
Komoditas seperti kakao, tanaman pangan, hortikultura, dan berbagai hasil perkebunan lainnya merupakan potensi ekonomi yang dapat terus dikembangkan.
"Kawasan Palolo harus menjadi contoh pembangunan yang mengintegrasikan produktivitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan," ujar dia.
Diketahui dukungan GIZ untuk pengembangan komoditas di Sulawesi Tengah hingga saat ini seperti 82 demplot kakao, 118 nursery kakao, 9492 petani penerima manfaat dan 50.716 non cocoa seedling.
Pewarta : Moh Salam
Editor:
Muhammad Zulfikar
COPYRIGHT © ANTARA 2026