asiawebawards.com
  • 2026-07-28 22:48:41 +0000 UTC

    Jul 28, 2026

    Jika Ulama Berbeda Pendapat, Bagaimana Santri Harus Bersikap? |Republika Online

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam khazanah keilmuan Islam, tak jarang dihiasi pendapat yang beragam. Adakalanya muncul perbedaan pendapat di kalangan ulama.

    Bagaimana dengan santri yang posisinya adalah seseorang yang sedang mempelajari ilmu-ilmu agama? Mengenai hal ini, Hadratusyekh KH Hasyim Asyari, pendiri Pesantren Tebuireng dan juga pendiri Nahdlatul Ulama memberikan nasihatnya. Hal ini beliau tuliskan dalam kitabnya yang berjudul Adab al Alim wa Mutaalim.

    Menurut Kiai Hasyim Asyari, sejak awal seorang santri harus bisa menahan diri dan tidak terjebak dalam perbedaan pandangan di antara para ulama dan juga manusia umumnya secara mutlak. Baik pada masalah pemikiran maupun pendengaran karena hal itu akan membuat hatinya menjadi bimbang, dan membuat pikiran tidak tenang.

    Sejak awal, santri harus bisa meyakinkan diri untuk berpegang pada satu kitab saja dan jika memperoleh izin dari guru atau kiainya, maka ia boleh menggunakan beberapa kitab yang berbeda. Namun, apabila metode yang dipakai gurunya hanya menukil, memindahkan pendapat dari beberapa mazhab dan ikhtilaf sedangkan ia sendiri tidak mempunyai satu pendapat, maka sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al Ghazali, hendaknya ia berhati-hati karena bahayanya masih lebih banyak dibanding manfaatnya.

    Kiai Hasyim Asyari melanjutkan, begitu juga seorang santri hendaknya dalam mempelajari berbagai macam kitab sejak awal berhati-hati karena hal itu bisa menyia-nyiakan waktu dan tidak bisa berkonsentrasi. Bhakan, santri harus memberikan kitab-kitab dan pelajaran yang ia pelajari kepada gurunya untuk dilihat agar guru bisa memberikan bimbingan keyakinan santri.

    Demikian pula jika menukil dari satu kitab ke kitab yang lain tanpa ada yang mewajibkan, ia juga harus berhati-hati, karena bisa jadi akan muncul indikasi kebosanan dan tanda tidak ada keberuntungan. 

    Namun, apabila santri sudah mempunya dasar kemampuan yang memadai, maka lebih baik ia tidak membuat hal-hal baru dalam ilmu hukum melainkan hanya mempelajari teorinya saja. Karena yang bisa memberikan kebahagian dan usia yang panjang pada dirinya dan ketenangan hanyalah jika ia bisa membersihkan dirinya dari kebodohan ilmu itu dan ia berpegang pada ilmu itu dengan kuat, ia tidak akan meremehkan amal perbuatan yang dimaksudkan oleh ilmu itu.

    2026-07-28 22:48:41 +0000 UTC