Seorang anggota Bulan Sabit Merah Iran berjalan ketika asap masih mengepul dari Kilang Minyak Shahran menyusul serangan udara tadi malam di Teheran, Iran, 8 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Iran telah mentransfer 7,5 miliar dolar AS (sekitar Rp133 triliun) pendapatan dari penjualan minyak selama empat bulan pertama tahun kalender Iran saat ini ke bank sentral. Menurut laporan kantor berita semi-resmi Fars pada Sabtu (29/8/2026), mengutip informasi dari Kementerian Perminyakan Iran, dana tersebut diperkirakan cukup untuk menutupi kebutuhan pengeluaran pemerintah dalam valuta asing selama periode Juli hingga Desember.
Menurut laporan tersebut, Iran memiliki persediaan minyak yang cukup untuk dijual di luar wilayah yang terdampak blokade angkatan laut AS guna memenuhi target pendapatan yang ditetapkan dalam anggaran negara untuk periode 21 Maret 2026 hingga 20 Maret 2027. Pendapatan minyak Iran pada periode 21 Maret hingga 22 Juli, atau empat bulan pertama tahun Iran, mencapai 99 persen dari target yang diproyeksikan dalam anggaran untuk periode tersebut.
Perkembangan ini terjadi di tengah blokade angkatan laut AS terhadap Iran yang telah mengganggu ekspor minyak dan perdagangan maritim Teheran. Sebelumnya, Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengatakan negaranya tetap terus menjual minyak meskipun ada blokade laut oleh Amerika Serikat.
"Saat ini, penjualan minyak terus berlanjut dan menjangkau pelanggan jauh di luar perairan teritorial kami," kata Paknejad kepada media daring Jamaran pada Kamis (27/8/2026).
Paknejad mengakui bahwa volume penjualan menurun setelah blokade laut kembali diberlakukan. Dia tak mengungkapkan rincian lebih lanjut, dengan alasan "musuh" dapat menyalahgunakan informasi tersebut.
Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati mengatakan ekspor minyak Iran nyaris terhenti akibat kondisi yang sedang terjadi di kawasan tersebut.
sumber : Antara, Anadolu, Sputnik/RIA Novosti