Jakarta, CNN Indonesia --

Iran mengancam akan menargetkan memutus kabel internet bawah laut yang melintasi Selat Hormuz di tengah perang yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat (AS).

Ancaman tersebut muncul saat blokade terhadap Iran semakin diperketat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah mengidentifikasi target baru di kawasan strategis tersebut. IRGC menyebut tujuh kabel internet utama melintasi Selat Hormuz.

"Tujuh kabel internet utama melewati Selat Hormuz, dan musuh harus tahu bahwa kita memiliki target baru," kata IRGC pada Senin (19/10), seperti dilaporkan Middle East Monitor.

Ancaman itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap situasi keamanan di Timur Tengah.

[Gambas:Video CNN]

Sebelumnya, Kedutaan Besar AS di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Oman, dan Israel memperingatkan warga AS mengenai potensi perkembangan situasi keamanan yang berlangsung cepat.

Peringatan tersebut disampaikan melalui pernyataan pada Minggu (18/10) malam. Keempat kedutaan meminta warga AS meningkatkan kewaspadaan karena situasi keamanan di kawasan dinilai "kompleks".

Mereka juga mengingatkan kemungkinan "pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, dan gangguan perjalanan". Warga AS yang bepergian menuju atau meninggalkan kawasan tersebut diminta memantau informasi terbaru dari bandara dan maskapai penerbangan.

Kedutaan-kedutaan itu juga menyarankan warga AS menyiapkan rencana perjalanan alternatif untuk mengantisipasi perubahan situasi.

Dalam pernyataannya, kedutaan AS turut menyoroti aktivitas kelompok Houthi yang didukung Iran. Kelompok tersebut disebut terlibat dalam permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting lainnya.

Serangan-serangan itu dilaporkan menyebabkan korban jiwa di kalangan warga sipil serta mengganggu perjalanan secara signifikan.

Kedutaan AS memperingatkan konflik tersebut dapat meluas dengan cepat ke luar wilayah yang saat ini terdampak.

"Permusuhan ini berpotensi meningkat dengan cepat di luar wilayah terdekat tersebut," demikian peringatan kedutaan-kedutaan AS.

(mge/bac)