Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan investor pasar modal tembus 31,14 juta investor per Agustus 2026. Bahkan data terbaru disebut jumlah investor sudah tembus 32 juta.

Dari sisi demografi, Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek OJK, Edi Broto Suwarno merincikan per Agustus, sekitar 55,25% investor individu berusia 30 tahun ke bawah. Bahkan, jika digabung dengan kelompok usia 31 hingga 40 tahun, proporsinya mencapai lebih dari 80,64%.

"Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia pada saat ini semakin dekat dengan generasi muda kita," ucap Edi dalam sambutannya di acara Ring The Bell For Financial Literacy 2026 di Gedung BEI, Rabu (14/10/2026).

Menurutnya, hal yang menjadi penting adalah semakin banyak generasi muda Indonesia yang berpartisipasi atau ikut melakukan investasi di bidang keuangan, khususnya pasar modal.

"Literasi keuangan menjadi salah satu hal utama yang perlu menjadi perhatian kita semua, khususnya terkait dengan tingkat, tingkat literasi keuangan di kalangan generasi muda atau generasi-generasi besok," tuturnya.

Edi kemudian membeberkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2026 menunjukkan kelompok usia 26 sampai 35 tahun memiliki indeks literasi dan inklusi keuangan tertinggi, masing-masing 78,70% dan 96,27%.

Namun, indeks literasi dan inklusi masyarakat pada sektor pasar modal secara keseluruhan masih relatif belum terlalu tinggi, ini baru mencapai 17,78% dan 1,34%.

"Pertumbuhan jumlah investor coba harus diikuti dengan peningkatan kualitas pemahaman investor terhadap keuangan atau tingkat literasi keuangan yang tinggi," kata Edi.

Maka demikian, OJK mengapresiasi BE yang menyelenggarakan kegiatan Ring The Bell For Financial Literacy 2026 sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi keuangan dan sekaligus upaya pelindungan investor di Indonesia. Kegiatan ini merupakan inisiatif World Organization of Exchange (WFE) yang mengajak lebih dari 50 kelompok bursa efek di berbagai negara.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]