Probolinggo, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo, Jawa Timur mengelar "Integrity Run" untuk mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran antikorupsi yang menjadi bagian dari puncak Probolinggo Anti Corruption Fest 2026 di Stadion Gelora Merdeka Kraksaan, Sabtu.
Kegiatan yang digelar Inspektorat Daerah itu tidak hanya mengajak masyarakat berolahraga, namun menjadi salah satu cara menyampaikan pesan antikorupsi melalui ruang publik sekaligus menumbuhkan budaya integritas di tengah masyarakat.
"Rangkaian Probolinggo Anti Corruption Fest 2026 diarahkan untuk memperkuat budaya integritas dan meningkatkan kesadaran antikorupsi," kata Inspektur Kabupaten Probolinggo Imron Rosyadi di sela kegiatan Integrity Run.
Pesan antikorupsi tidak hanya disampaikan melalui kegiatan lari, namun Pemkab Probolinggo juga menghadirkan pameran edukasi integritas, bazar serta permainan edukasi antikorupsi, mural serta berbagai kompetisi kreatif.
“Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan hari ini adalah untuk memperkuat budaya integritas, meningkatkan kesadaran antikorupsi serta mewujudkan tata kelola pemerintahan Kabupaten Probolinggo yang bersih, transparan dan akuntabel,” tuturnya.
Menurut Imron, kampanye antikorupsi tahun ini mengusung tema “Wujudkan Perubahan yang Berani, Jujur untuk Sejahtera dan Amanah” dengan tagline “Gak Jujur Gak SAE.” Untuk menjangkau generasi muda, kampanye dilakukan melalui lomba video antikorupsi dengan memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), pembuatan avatar antikorupsi hingga jingle.
"Untuk merangkul generasi muda, kami menggelar beberapa lomba terkait dengan video antikorupsi, termasuk menggunakan AI, juga pembuatan lomba avatar antikorupsi,” katanya.
Imron menjelaskan mural menjadi bagian penting dalam kampanye antikorupsi, bahkan peserta lomba tidak hanya berasal dari Kabupaten Probolinggo, tetapi juga dari Bali, Jakarta, Jawa Tengah hingga Jember. Sebanyak sembilan karya ditetapkan sebagai pemenang. Harapannya keberadaan mural tersebut dapat menjadi media edukasi antikorupsi bagi masyarakat berbagai usia.
Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto mengatakan pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum, namun pencegahan harus dibangun melalui kesadaran, edukasi dan budaya integritas yang dilakukan secara berkelanjutan.
"Semangat tersebut harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik. Berbagai upaya telah dilakukan Pemkab Probolinggo, mulai dari pembacaan Kode Etik ASN dalam apel pagi, Integrity Day, pemasangan stiker kepatuhan pada kendaraan dinas, Gerakan Tangga dan Cermin Integritas hingga kampanye melalui media sosial dan podcast,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya mencegah pungutan liar, suap, gratifikasi, jual beli jabatan hingga benturan kepentingan. Kemudian fasilitas dinas harus digunakan untuk kepentingan masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi, sehingga hal itu harus menjadi komitmen bersama dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berintegritas.
Ia mengajak masyarakat berani melaporkan apabila menemukan dugaan kecurangan melalui saluran pengaduan yang tersedia, termasuk Whistleblowing System (WBS) dan Call Center “Halo SAE.” “Jhe’ takok alapor" yang artinya jangan takut melapor kalau melihat adanya kecurangan karena integritas membutuhkan keberanian, baik dari aparatur maupun masyarakat.
Sekda Ugas berharap kampanye tersebut tidak berhenti setelah rangkaian kegiatan September selesai karena integritas harus menjadi bagian dari pembangunan Kabupaten Probolinggo secara berkelanjutan.
“Saya berharap semangat antikorupsi ini tidak berhenti di bulan September saja, tetapi menjadi nafas panjang pembangunan di Kabupaten Probolinggo,” katanya.
Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.