Jakarta, CNN Indonesia --

Perairan Masalembo jadi sorotan usai KM Virgo Transport 8 terbalik di Laut Jawa pada Minggu (13/9). Hingga Rabu (16/9), 129 orang masih dalam pencarian.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan bahwa Perairan Masalembo selama bertahun-tahun sering dikaitkan dengan berbagai cerita mistis dan bahkan disebut sebagai

'Segitiga Bermuda Indonesia'. Namun, dari perspektif sains, kawasan ini dipahami sebagai bagian dari sistem laut Indonesia dengan memiliki dinamika oseanografi dan meteorologi maritim yang kompleks.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kompleksitas tersebut tidak berarti Masalembo memiliki fenomena laut yang misterius atau unik yang secara otomatis menyebabkan kapal tenggelam," kata Daryono dalam keterangan tertulisnya, Rabu (16/9).

Menurut dia, risiko pelayaran di kawasan ini lebih tepat dipahami sebagi hasil interaksi berbagai faktor, antara lain angin, gelombang, arus, pasang surut, kondisi atmosfer, batimetri, karakteristik kapal, muatan, serta keputusan dan prosedur navigasi.

Kawasan Masalembo berada dalam sistem perairan yang berhubungan dengan Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores. Selat Makassar merupakan salah satu jalur penting Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yg membawa massa air dari kawasan Pasifik menuju perairan Indonesia bagian selatan.

Sementara itu, Laut Jawa dan Laut Flores memiliki karakteristik sirkulasi yang dipengaruhi oleh konfigurasi kepulauan, pasang surut, serta perubahan musiman akibat sistem monsun.

"Artinya, kawasan ini bukan sekadar tempat bertemunya tiga laut, melainkan bagian dari sistem pertukaran massa air yang dinamis. Perbedaan temperatur, salinitas, densitas, kedalaman, dan arah arus dapat membentuk struktur laut yang kompleks, baik secara horizontal maupun vertikal," jelas dia.

Menurut Daryono, dalam kondisi tertentu, perbedaan densitas antarlapisan dapat menghasilkan stratifikasi laut dan shear arus, yaitu perbedaan kecepatan atau arah arus antara satu lapisan dengan lapisan lainnya. Proses ini dapat berhubungan dengan turbulensi, pencampuran massa air, maupun fenomena gelombang internal.

Namun begitu, menurut Daryono, fenomena ini tidak boleh langsung dianggap sebagai penyebab kapal kehilangan daya apung atau kendali. Ia menjelaskan bahwa faktor atmosfer juga sangat penting.

"Masalembo berada dalam wilayah yang dipengaruhi sistem monsun Asia-Australia. Perubahan arah dan kecepatan angin dapat memengaruhi pembentukan serta propagasi gelombang. Dalam kondisi tertentu, gelombang yang datang dari arah berbeda dapat bertemu dan membentuk cross-sea, yaitu kondisi ketika terdapat sistem gelombang dari lebih dari satu arah," jelas Daryono.

"Cross-sea dapat meningkatkan gerakan kapal, terutama rolling (miring ke kiri dan kanan) dan pitching (mengangguk ke depan dan belakang), serta menambah beban dinamis pada struktur kapal. Namun, pembentukan cross-sea tidak semata-mata disebabkan oleh benturan angin dengan arus," ujar dia menambahkan.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat terbentuk dari kombinasi gelombang lokal yg dibangkitkan angin dengan gelombang yang datang dari wilayah lain.

Ia menambahkan, cuaca konvektif juga perlu diperhitungkan. Laut yang hangat menyediakan uap air dan energi bagi atmosfer, tetapi suhu permukaan laut yang tinggi tidak otomatis menghasilkan badai ekstrem, dan perlu kondisi atmosfer lain yang mendukung pertumbuhan awan konvektif.

Daryono menjelaskan, ketika awan Cumulonimbus berkembang kuat, dapat terjadi hujan lebat, petir, downdraft, dan gust front. Hembusan angin yang berubah cepat dapat menyebabkan kondisi laut berubah dalam waktu relatif singkat.

"Bagi kapal, perubahan mendadak pada angin dan gelombang dapat meningkatkan beban dan gerakan kapal. Kombinasi angin, gelombang, dan arus merupakan parameter penting yang perlu diperhatikan dalam pelayaran," tuturnya.

Faktor kedalaman dasar laut

Menurut Daryono, selain kondisi atmosfer dan laut, batimetri atau bentuk serta kedalaman dasar laut juga berperan. Perubahan kedalaman dapat memengaruhi propagasi gelombang melalui proses seperti shoaling dan refraksi.

Ketika gelombang memasuki perairan yang lebih dangkal, kecepatannya dapat berkurang dan karakteristiknya berubah.

Namun, perubahan kedalaman tidak selalu berarti tinggi gelombang akan meningkat secara drastis. Besarnya perubahan bergantung pada periode dan arah datang gelombang, kedalaman laut, bentuk dasar laut, pasang surut, serta kondisi arus setempat.

Oleh sebab itu, menurutnya, kondisi laut yang berbahaya di Masalembo seharusnya tidak dijelaskan dengan satu mekanisme tunggal. Ia menekankan bahwa risiko pelayaran merupakan hasil interaksi antara faktor lingkungan dan faktor manusia serta kapal.

[Gambas:Video CNN]

Faktor lingkungan dapat berupa angin, gelombang, arus, pasang surut, cuaca konvektif, dan batimetri. Sementara itu, faktor kapal dan operasional meliputi stabilitas, distribusi dan pengamanan muatan, kondisi teknis, kecepatan pelayaran, kemampuan manuver, kompetensi awak, serta keputusan navigasi.

"Dalam kondisi gelombang besar, misalnya, kapal dapat mengalami rolling dan pitching yg signifikan. Apabila stabilitas kapal terganggu atau terjadi pergeseran muatan, kondisi tersebut dapat menjadi semakin serius," jelas dia.

Ia mengatakan bahwa fenomena oseanografi dan meteorologi terkait hal ini tidak bisa dianggap sebagai kesimpulan penyebab kecelakaan Virgo Transport 8. Fenomena tersebut merupakan faktor lingkungan yang secara fisik dapat memengaruhi kondisi pelayaran, tetapi kontribusi masing-masing faktor harus dibuktikan melalui data dan investigasi kecelakaan.

(dmi)