asiawebawards.com
  • 2026-07-28 08:45:00 +0000 UTC

    Jul 28, 2026

    Ini Alasan Pasien Pulih Lebih Cepat Setelah Tindakan Bedah Robotik

    Bagikan:

    JAKARTA - Kemajuan teknologi terus mengubah layanan kesehatan, termasuk di ruang operasi di Indonesia. Jika dulu tindakan bedah identik dengan sayatan besar, nyeri yang berkepanjangan, dan masa pemulihan yang lama, kini berbagai inovasi mulai menghadirkan pendekatan yang lebih minim invasif sehingga pasien dapat kembali beraktivitas dalam waktu yang lebih singkat.

    Salah satu teknologi yang semakin berkembang adalah bedah robotik. Berbeda dengan anggapan bahwa robot bekerja secara mandiri, prosedur ini tetap sepenuhnya dikendalikan oleh dokter bedah. Sistem robotik berfungsi membantu meningkatkan presisi gerakan, terutama saat menangani area tubuh yang kompleks dan membutuhkan tingkat ketelitian tinggi.

    Melalui instrumen berpresisi tinggi, dokter memiliki keleluasaan dalam melakukan tindakan dengan sayatan yang lebih kecil dibandingkan operasi konvensional. Pendekatan tersebut membantu meminimalkan trauma pada jaringan di sekitar area operasi, sehingga dapat mengurangi rasa nyeri pascaoperasi sekaligus mempercepat proses pemulihan pasien.

    Perkembangan teknologi ini juga mulai diterapkan untuk menangani berbagai kasus medis, mulai dari operasi kanker, tindakan urologi, bedah ginekologi, hingga transplantasi ginjal.

    Di Indonesia, penerapan bedah robotik pun terus berkembang seiring meningkatnya pengalaman tenaga medis dalam menangani kasus-kasus yang semakin kompleks.

    Dokter ahli bedah robotik, Prof. dr. Agus Rizal Ardy Hariandy Hamid, Sp.U (K), FICRS, PhD, menjelaskan keunggulan utama bedah robotik terletak pada tingkat presisi yang lebih tinggi dibandingkan prosedur konvensional. Meski didukung teknologi canggih, peran dokter tetap menjadi faktor utama dalam setiap tindakan operasi.

    "Dari segi presisi, bedah robotik memang lebih unggul, karena dokter juga manusia yang ada batasnya. Tapi kehadirannya bukan untuk menggantikan dokter, melainkan menyempurnakan bedah di bidang kedokteran,” ujarnya.

    Menurut Prof. Agus, tidak semua pasien membutuhkan tindakan bedah robotik. Pemilihan metode operasi tetap mempertimbangkan kondisi medis masing-masing pasien agar manfaat yang diperoleh dapat lebih optimal.

    Ia menuturkan teknologi tersebut memberikan hasil terbaik yang memungkinkan pasien bisa lebih cepat beraktivitas kembali setelah dioperasi.

    "Bisa dikatakan memang lebih cepat pulih karena metode bedah yang lebih presisi sehingga dapat meminimalisasi luka dan mempercepat penyembuhan," ujarnya.

    BACA JUGA:


    Dalam kesempatan yang sama, Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk, Dr. dr. Ivan Rizal Sini, mengatakan keberhasilan pengembangan layanan bedah robotik tidak hanya bergantung pada kecanggihan perangkat, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia.

    "Selama lebih dari satu dekade, BMHS secara konsisten membangun kompetensi dokter, memperkuat kolaborasi multidisiplin, dan mengembangkan standar praktik yang mengedepankan keselamatan pasien. Peningkatan kapabilitas layanan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang kami untuk terus menjadi rujukan dalam pengembangan bedah robotik di Indonesia, sekaligus berkontribusi membangun ekosistem melalui pendidikan, riset, dan pengembangan talenta medis."

    Selain memberikan manfaat bagi pasien, pengembangan bedah robotik juga dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan di Indonesia. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi antara rumah sakit, pemerintah, serta institusi pendidikan dalam bidang riset, pelatihan, dan pengembangan teknologi medis.

    Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa teknologi robotik menjadi salah satu fokus transformasi sistem kesehatan nasional.

    "Kita definisikan enam pilar reformasi, yang pilar nomor enamnya khusus mengenai teknologi kesehatan dan ada tiga teknologi kesehatan yang kita fokuskan, satu adalah Robotics Technology, AI on health, dan biotechnology. Karena this is so important, Kemenkes punya Robotics Committee,” jelas Budi.

    Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan rumah sakit swasta dalam memperluas akses masyarakat terhadap teknologi tersebut.

    “Rumah sakit swasta jumlahnya lebih banyak daripada rumah sakit pemerintah. Jadi mereka sangat dibutuhkan terutama untuk membuka akses. Contohnya ini, (Rumah Sakit) Bunda sudah melakukan operasi robotik (sejak) 2012,” pungkas Budi.

    Pengembangan teknologi bedah robotik juga diiringi dengan upaya memperkuat kompetensi tenaga medis melalui penyusunan buku ajar yang memuat pengalaman klinis dan praktik terbaik. Langkah ini diharapkan dapat memperluas transfer pengetahuan sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak dokter yang memiliki keahlian dalam bidang bedah robotik.

    Dr. dr. Ivan Rizal Sini, yang juga menjadi salah satu penulis Buku Ajar Bedah Robotik Ginekologi, menilai kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan pengembangan ilmu pengetahuan.

    "Pengalaman klinis, ilmu pengetahuan, dan praktik terbaik dapat terus dibagikan agar semakin banyak dokter Indonesia memiliki kompetensi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Kami berharap buku ini menjadi salah satu kontribusi BMHS dalam memperkuat kapasitas tenaga medis sekaligus mendorong perkembangan ilmu bedah robotik di Indonesia," pungkasnya.

    Add VOI as a Preferred Source

    Follow VOI news updates across Google.

    +

    Populer

    Ini Alasan Pasien Pulih Lebih Cepat Setelah Tindakan Bedah Robotik

    28 Juli 2026, 15:45

    2026-07-28 08:45:00 +0000 UTC