asiawebawards.com
  • 2026-08-05 10:25:00 +0000 UTC

    Aug 05, 2026

    Infantino Kebakaran Jenggot, Adakan Pertemuan Darurat Staf FIFA Seiring Meningkatnya Tekanan

    Bagikan:

    JAKARTA - Gianni Infantino telah mengadakan pertemuan darurat staf FIFA di Rabat, Maroko, pada Rabu, 5 Agustus 2026, karena tekanan terhadap Presiden FIFA meningkat.

    Mantan manajer Arsenal, Arsene Wenger, Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, pada Selasa, 4 Agustus 2026, mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa ia tidak terlibat dalam rencana untuk mencari investasi swasta di sebuah perusahaan untuk menjalankan Piala Dunia, tetapi keputusan untuk membatalkan rencana itu ialah benar-benar perlu dan tidak perlu dipertanyakan lagi.

    Wenger telah menghadapi kritik dalam beberapa hari terakhir karena kebungkamannya atas rencana FFE, tetapi berbicara pada Selasa untuk menyambut penarikan proyek tersebut.

    "Saya sangat percaya kepada FIFA yang independen yang melayani permainan kita dengan komitmen, transparansi, dan integritas," ujarnya.

    BACA JUGA:


    Menurut Press Association, pertemuan di Maroko diadakan setelah akhir pekan dan akan melibatkan Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, dan Dewan Manajemen FIFA, yang meliputi Kepala Staf Organisasi Daniel O'Toole, Kepala Petugas Hukum Emilio Garcia Silvero, Kepala Asosiasi Anggota Elkhan Mammadov, Kepala SDM Kimberly Morris, Direktur Media Bryan Swanson, dan Direktur Komunikasi David Farrelly.

    Grafstrom, tokoh senior kedua di FIFA setelah Infantino, juga diketahui telah menghubungi staf FIFA untuk membahas serangkaian peristiwa menyedihkan dan tercela minggu lalu yang untungnya diakhiri dengan proyek tersebut dihentikan secara permanen.

    Rencana untuk menciptakan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah perusahaan untuk menjalankan aspek komersial dan operasional turnamen FIFA, pertama kali muncul dalam laporan The Times dan Financial Times pekan lalu, sebelum FIFA mengeluarkan konfirmasi beberapa detailnya.

    Aspek yang paling kontroversial ialah gagasan untuk menjual 20 persen saham FFE kepada investor swasta.

    Rencana tersebut ditolak keras oleh UEFA, Concacaf, dan AFC. UEFA juga mengancam akan memboikot turnamen di bawah FIFA termasuk Piala Dunia sampai rencana tersebut dibatalkan, yang akhirnya dibatalkan akhir pekan kemarin.

    UEFA menyatakan bahwa mereka telah kehilangan kepercayaan kepada Infantino dan sejumlah asosiasinya-- termasuk Inggris dan Wales--telah secara resmi menarik dukungan mereka untuk Infantino. Asosiasi Sepak Bola Skotlandia juga dikabarkan sejalan dengan posisi UEFA.

    Dipahami bahwa upaya terus dilakukan di antara anggota Dewan FIFA untuk mencari mayoritas 19 suara untuk meminta pertemuan guna meminta pertanggungjawaban Infantino atas rencana tersebut dan atas penanganannya terhadap kasus pemain Amerika Serikat di Piala Dunia 2026, Folarin Balogun.

    Menurut Press Association, jika mayoritas tidak dapat dicapai, atau jika Infantino menolak permintaan tersebut, anggota Dewan yang menentangnya bermaksud untuk melakukan boikot tata kelola dan secara efektif membuat FIFA tidak mampu beroperasi.

    Grafstrom dikabarkan telah mengirim email kepada staf FIFA untuk berterima kasih atas upaya mereka selama Piala Dunia, tetapi mengakui bahwa mereka sekarang telah terlempar ke tengah kekacauan, yang sulit dipahami dan diterima.

    Grafstrom berjanji bahwa staf akan dibela dan dilindungi dari konteks politik yang saat ini kita alami.

    "Individu, momen-momen yang tidak stabil, dan episode-episode yang tidak menguntungkan datang dan pergi. Lembaga, misinya, dan tanggung jawabnya terhadap sepak bola dunia terus berlanjut," tuturnya.

    Komentar tersebut menyusul pengunduran diri penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, pekan lalu dan pernyataan keras dari Kepala Operasional FIFA, Kevin Lamour, yang mana ia mengatakan bahwa staf organisasi telah ditipu oleh Infantino.

    Meski Afrika, Amerika Selatan, dan Oseania sebagian besar diperkirakan akan tetap mendukung Infantino, asosiasi-asosiasi di bawah AFC dapat memegang kunci masa depan pria berkepala pelontos itu dan beberapa di antaranya—termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Sri Lanka, dan Lebanon—telah menyatakan dukungan.

    Namun, Yordania justru mengambil sikap yang berbeda. Presiden Federasi Sepak Bola Yordania, Pangeran Ali Bin Al Hussein, menuduh FIFA melakukan pemerasan.

    Ia menuduh dalam sebuah unggahan di X bahwa FIFA mengatakan kepadanya selama Piala Dunia 2026 bahwa ia akan menerima uang yang diduga terutang kepada asosiasi jika ia memilih Infantino. FIFA mengetahui komentar Pangeran Ali dan sejauh ini menolak untuk menanggapi.

    Sementara itu, UEFA juga telah memberi tahu Infantino bahwa mereka secara aktif mempertimbangkan tindakan hukum atas rencana FFE.

    Pengacara yang bertindak atas nama UEFA telah memerintahkan Infantino dan staf FIFA lainnya untuk mengidentifikasi, menemukan, dan menyimpan dokumen apa pun yang terkait dengan proyek tersebut.

    Add VOI as a Preferred Source

    Follow VOI news updates across Google.

    +

    2026-08-05 10:25:00 +0000 UTC