Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menjadi Negara Kehormatan dalam gelaran Global Digital Trade Expo (GDTE) 2026 di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China. Keikutsertaan ini dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama ekonomi digital, mengeksplorasi perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sekaligus membuka peluang investasi dan perdagangan digital lintas negara.

Deputi Bidang Koordinasi Perdagangan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon, yang mewakili Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, turut hadir dalam ajang tersebut.

Kehadiran Indonesia menjadi bagian dari tindak lanjut Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Perdagangan Elektronik antara Kementerian Perdagangan China dan Kemenko Perekonomian yang ditandatangani pada 8 September 2023.

"Selain itu, partisipasi Indonesia juga berkaitan dengan peran sebagai salah satu pendiri World AI Collaboration Organization (WAICO), yang mendorong kolaborasi internasional dan investasi di bidang AI," jelas dia dalam keterangan tertulis, Kamis (8/10/2026).

Dalam rangkaian GDTE 2026, Indonesia turut mendorong kerja sama pengembangan talenta dan ekonomi digital dengan China. Kerja sama tersebut mencakup pelatihan untuk institusi pemerintahan, pemanfaatan teknologi AI berbasis open source, serta pertukaran praktik terbaik.

Empat Inisiatif

Global Digital Trade Expo (GDTE) 2026 di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, pada 23-27 September 2026. (Dok Kemenko Perekonomian)

Perbesar

Global Digital Trade Expo (GDTE) 2026 di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, pada 23-27 September 2026. (Dok Kemenko Perekonomian)

Indonesia juga mengundang perusahaan teknologi asal Hangzhou untuk membangun pusat data di Indonesia. Ajakan tersebut mendapat respons positif karena sejalan dengan rencana ekspansi global perusahaan teknologi di kota tersebut.

Kerja sama AI dan investasi terkait kecerdasan artifisial diperkirakan memiliki nilai mencapai USD8 miliar hingga USD12 miliar pada periode 2026-2030.

Sementara itu, dalam sesi Silk Road E-commerce Day, Indonesia mengusulkan empat inisiatif kepada China. Pertama, proyek percontohan berbasis platform untuk menarik investasi AI. Kedua, alokasi pelatihan bagi 5.000 talenta AI Indonesia.

Ketiga, proyek percontohan inovasi AI di salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Keempat, pembentukan kemitraan kawasan kembar antara KEK Qiantang di China dan KEK Digital Serpong di Indonesia.

Langkah tersebut diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai ekonomi digital sekaligus memperluas akses terhadap teknologi dan investasi AI.

Delapan MoU Hasilkan Potensi Investasi US$ 400 Juta

Selain kerja sama AI dan ekonomi digital, Indonesia juga membawa peluang investasi konkret dari rangkaian kegiatan GDTE 2026.

Dalam China Indonesia Industrial Development Exchange Conference (Business Matching) pada 23 September 2026, tercapai delapan MoU kerja sama dengan perkiraan nilai investasi sekitar USD 400 juta atau kurang lebih Rp 7,16 triliun (estimasi kurs Rp 17.900 per dolar AS).

Lima MoU pertama mencakup bidang energi baru dan konstruksi pendukung serta rekayasa lingkungan; pelatihan wirausaha Asia Tenggara di China; penghubungan industri, konsultasi, dan pertukaran bisnis lintas batas; peralatan cerdas; serta layanan keuangan bagi perusahaan China yang berinvestasi di Indonesia.

Sementara tiga MoU lainnya berkaitan dengan rencana pembentukan usaha patungan atau joint venture di bidang infrastruktur digital berbasis blockchain dan komputasi privat, data terpercaya dan konektivitas generasi berikutnya, serta infrastruktur digital.

Di sektor kawasan ekonomi khusus, Indonesia juga mengusulkan lima agenda dalam BRICS Special Economic Zones Hangzhou Dialogue, termasuk koridor investasi hijau dan digital serta platform fasilitasi investasi.

Pada kesempatan tersebut turut diumumkan kerja sama antara Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan Hangzhou Economic and Technological Development Area (HEDA).

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6