IHSG Ambles 1,75 Persen ke Level 6.204, Konflik Timur Tengah dan Tarif Baru AS Jadi Biang Tekanan Pasar
Jumat, 24 Juli 2026 - 14:07 WIB
Jakarta, VIVA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan sesi I Jumat, 24 Juli 2026. Indeks ditutup melemah 110,68 poin atau 1,75 persen ke level 6.204, setelah sejak pembukaan perdagangan sudah bergerak di zona merah.
Baca Juga
Tekanan terhadap pasar saham Indonesia kali ini dipicu kombinasi sentimen global yang membebani minat investor terhadap aset berisiko. Dua faktor yang paling dominan adalah memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia serta kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat (AS).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pelemahan IHSG juga sejalan dengan mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang sama-sama bergerak negatif sepanjang perdagangan sesi pertama.
Baca Juga
Konflik Timur Tengah Dorong Harga Minyak Melonjak
Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan, tekanan terbesar datang dari kenaikan harga minyak mentah Brent yang kembali menembus level US$100 per barel.
Baca Juga
Lonjakan harga tersebut dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah kelompok Houthi dilaporkan menyerang kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Situasi semakin memanas menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran apabila kembali terjadi serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap potensi terganggunya pasokan energi global.
Menurut Pilarmas, kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara sehingga memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga global akan bertahan di level tinggi lebih lama.
"Lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga global akan tetap tinggi lebih lama, sehingga mengurangi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham," tulis Pilarmas dalam risetnya.
Tarif Baru Amerika Serikat Tambah Tekanan
Selain faktor geopolitik, pasar juga merespons kebijakan baru pemerintah Amerika Serikat yang mulai memberlakukan tarif impor terhadap sekitar 60 negara mitra dagangnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Tarif yang berkisar antara 10 persen hingga 12,5 persen itu dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok global sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.
Pilarmas menilai kebijakan tersebut meningkatkan risiko terjadinya stagflasi, yakni kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melambat namun inflasi tetap tinggi.
Halaman Selanjutnya
Kondisi tersebut membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada instrumen investasi yang memiliki risiko tinggi, termasuk pasar saham.