Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membagikan sejumlah kiat untuk mencegah dampak buruk asap yang menguap ke udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada kesehatan anak.

"Ini perlu menjadi perhatian pada anak-anak dengan penyakit jantung bawaan ataupun anak-anak yang dirawat di rumah sakit, namun kondisinya terganggu kesehatannya, seperti dari sistem paru-paru dan kondisi lainnya akan berisiko lebih tinggi terpapar dari asap karhutla," kata Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI Dr. Fifi Sofiah, Sp.A, Subsp. Respi. (K) dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat.

Fifi menyebut sejumlah dampak risiko apabila anak menghirup asap akibat karhutla memicu terjadinya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), eksaserbasi asma, bronkiektasis, serta penyakit paru-paru kronik.

Baca juga: Asap karhutla mengandung partikel penyebab iritasi saluran pernapasan

Di samping itu, paparan asap karhutla dapat memicu stres oksidatif dan inflamasi saluran napas.

Guna mencegah seluruh risiko itu, Fifi menyarankan pada orang tua untuk rajin memantau laporan kualitas udara lokal melalui Air Quality Index (AQI) atau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) secara rutin.

Orang tua diharapkan dapat menyiapkan satu ruang bersih (clean room) di rumah atau ruangan dengan sedikit jendela dan pintu, yang dilengkapi dengan alat pembersih udara portabel, dengan tipe bukan ozone-generating.

Baca juga: Dampak asap karhutla, Pemkot Kendari terapkan PJJ hingga 23 Oktober

"Kalau misalnya menggunakan AC agar AC-nya diatur, tidak dengan kondisinya menarik udara segar dari luar ke dalam. Kita upayakan modenya closed vent atau air recirculation," katanya.

Fifi melanjutkan selama kabut asap berlangsung, orang tua perlu menjaga anak tetap di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup.

Kualitas udara di dalam rumah perlu dijaga dengan menghindari hal-hal yang menyebabkan timbulnya asap lain.

Baca juga: Menkes imbau kelompok rentan batasi aktivitas luar ruang saat karhutla

"Dan kalau kita lihat di dalam rumah jangan sampai ada orang yang merokok ataupun menggunakan kompor gas, kayu bakar, perapian menggunakan lilin ataupun semprotan aerosol seperti semprotan nyamuk," tambah Fifi.

Cara pencegahan lainnya yakni dengan membatasi aktivitas fisik berat anak di luar ruangan, bila udara terlihat atau berbau, berasap maupun kualitas udara dilaporkan buruk oleh AQI dan ISPU.

Jika harus keluar rumah, katanya, pakaikan anak dengan masker jika sudah berusia dua tahun atau lebih untuk mencegah terhirupnya partikel asap yang berbahaya. Pakai pula kacamata untuk mencegah iritasi asap terhadap mata.

Baca juga: Cegah dampak asap karhutla, orang tua jangan ajak balita keluar rumah

Pada anak dengan asma, alergi atau kondisi kronis lain, berisiko lebih tinggi sehingga perlu dipastikan menyiapkan obat-obatan yang rutin digunakan. Termasuk obat pereda cepat atau rescue inhaler.

"Segera cari bantuan medis bila anak mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk atau menolak makan dan minum," ujar Fifi.

Baca juga: Asap makin pekat, BMKG imbau warga Sultra pakai masker

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.