ICPI tekankan pentingnya manajemen risiko pariwisata di desa wisata
Rabu, 2 September 2026 19:30 WIB
Warga membersihkan puing sisa perabotan rumah tangga pascakebakaran rumahnya di Desa Adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Senin (24/8/2026). Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Nusa Tenggara Barat (NTB) telah bergerak cepat melakukan koordinasi lapangan, pendataan dampak, serta menyusun peta tindak lanjut dan melakukan rencana aksi mencakup perbaikan fisik bangunan bermaterial tradisional plus fasilitas pencegahan kebakaran, pemulihan ekonomi warga (alat tenun) serta duplikasi naskah kuno pasca musibah kebakaran hebat yang melanda kawasan pemukiman tradisional Suku Sasak Sade. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/agr
Jakarta (ANTARA) - Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) menekankan pentingnya penerapan manajemen risiko sejak awal dalam pembangunan dan pengembangan desa wisata untuk mengantisipasi risiko kecelakaan maupun bencana.
“Jadi, preventif itu jauh lebih bagus daripada kuratif. Jadi, preventif itu mencegah, itu jauh lebih bagus daripada pengobatan. Dari suatu kecelakaan,” kata Ketua Umum ICPI Azril Azhari saat dihubungi ANTARA melalui via telepon di Jakarta, Rabu.
Azril mengatakan manajemen risiko seharusnya menjadi prasyarat sebelum sebuah destinasi, khususnya desa wisata, dibangun. Tahapannya mencakup survei, penentuan risiko dan prioritas, hingga mitigasi serta monitoring dan evaluasi.
Ia mengatakan survei diperlukan untuk mengetahui potensi risiko di suatu destinasi, termasuk apakah bangunan dan lingkungan di dalamnya mudah terbakar serta faktor yang dapat memicu kebakaran, baik karena alam maupun kecelakaan.
Dia mencontohkan terjadinya kebakaran di Desa Adat Sade, Nusa Tenggara Barat yang diketahui disebabkan oleh korsleting listrik dan berdampak pada bangunan berbahan kayu.
Menurut dia, aspek tersebut dapat diantisipasi melalui pengaturan lokasi meteran listrik serta penggunaan material bangunan yang dikombinasikan untuk mengurangi risiko kebakaran.
Selain konstruksi dan instalasi listrik, ia menilai ketersediaan peralatan keselamatan juga perlu menjadi bagian dari manajemen risiko. Salah satunya adalah Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang dapat digunakan untuk melakukan penanganan awal ketika terjadi kebakaran.
“Misalnya, alat untuk pemadam kebakarannya ada atau tidak? Itu kan syarat. Itu kan persyaratan yang prasyarat,” ujarnya.
Menurut Azril, mitigasi merupakan salah satu tahapan dalam manajemen risiko yang perlu diterapkan sejak awal. Mitigasi tersebut dapat mencakup penyediaan peralatan untuk mencegah dan menangani risiko yang telah diidentifikasi.
Ia juga menilai aspek keselamatan dalam pengembangan desa wisata tidak hanya perlu memperhatikan wisatawan, tetapi juga masyarakat dan lingkungan di sekitar destinasi.
“Jadi, ada konsep yang safety, jadi selamat, kemudian security, keamanan, dan healthy seperti sanitasi, jadi kebersihan. Setidaknya tiga itu wajib sekarang,” kata Azril.
Azril mengatakan penerapan manajemen risiko sejak tahap awal dapat menjadi bagian dari upaya membangun keselamatan di destinasi wisata, termasuk desa wisata yang memiliki bangunan dan karakter budaya tertentu.
Ia menekankan perlunya penerapan manajemen risiko secara terstruktur, mulai dari survei hingga monitoring dan evaluasi, sebagai bagian dari proses pengembangan destinasi wisata.
Pewarta : Hreeloita Dharma Shanti
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026