Jakarta (ANTARA) - Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) menilai aktivitas ekonomi domestik menjadi salah satu sumber pertumbuhan yang dapat menopang perekonomian Indonesia, seiring menguatkan konsumsi rumah tangga dan investasi pada semester I 2026.

Sekretaris Jenderal BPP HIPMI)Anthony Leong mengatakan pertumbuhan ekonomi perlu dilihat tidak hanya dari capaian agregat, tetapi juga dari perputaran aktivitas ekonomi di daerah yang melibatkan masyarakat, UMKM dan pelaku usaha lokal.

“Pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya terlihat di layar statistik. Pertumbuhan yang berkualitas adalah ketika uang berputar sampai di warung, pasar, sawah, UMKM, pengusaha daerah, dan menciptakan pekerjaan,” ujar Anthony dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.

Data menunjukkan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen secara kumulatif. Pertumbuhan tersebut ditopang antara lain oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,06 persen dan investasi yang meningkat 6,87 persen pada kuartal II 2026.

Menurut Anthony, pertumbuhan investasi perlu diikuti dengan semakin luasnya keterlibatan pelaku usaha domestik dalam rantai pasok. Dengan demikian, investasi tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga menciptakan permintaan bagi pemasok lokal dan membuka lapangan kerja.

Aktivitas ekonomi di sektor pertanian juga dinilai menjadi bagian penting dari perputaran ekonomi daerah. Pada September 2026, Nilai Tukar Petani mencapai 131,11 atau meningkat 1,49 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Indeks harga yang diterima petani naik 1,93 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang mereka bayar sebesar 0,44 persen. Nilai Tukar Usaha Pertanian juga mencapai 135,68.

“Kalau pendapatan dan daya tukar petani menguat, dampaknya tidak berhenti di sektor pertanian. Uang itu kembali berputar di pasar desa, warung, transportasi, perdagangan, bengkel, bahan bangunan, dan berbagai usaha kecil lainnya,” kata Anthony.

Baca juga: Menperin: Industri halal RI ditopang konsumsi Muslim capai Rp5.974 T

Baca juga: PIER: Konsumsi domestik perkuat ekonomi RI di tengah tekanan global

Menurut Anthony, semakin banyak pelaku usaha lokal yang terhubung dengan rantai pasok akan memperbesar efek pengganda dari pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas manfaat pertumbuhan ke berbagai daerah.

BPP HIPMI mendorong agar setiap program prioritas pemerintah memiliki indikator dampak ekonomi lokal yang jelas, antara lain berapa banyak UMKM dan pengusaha daerah yang masuk rantai pasok, berapa nilai belanja yang terserap secara lokal, berapa investasi baru yang tercipta, serta berapa banyak lapangan kerja yang dihasilkan.

Saat ini realisasi Transfer ke Daerah telah mencapai sekitar Rp540,28 triliun atau 81,65 persen dari pagu sekitar Rp661,67 triliun per 5 Oktober 2026. Menurut HIPMI, besarnya aliran fiskal tersebut perlu semakin diarahkan menjadi aktivitas ekonomi produktif di daerah.

Program seperti Makan Bergizi Gratis, penguatan ketahanan pangan, pembangunan perumahan, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta berbagai proyek pembangunan daerah dapat menciptakan rantai permintaan baru apabila pengadaan barang dan jasanya melibatkan pengusaha lokal.

“Dari atas kita dorong investasi, industrialisasi dan hilirisasi. Dari bawah kita hidupkan konsumsi, pangan, UMKM, koperasi dan ekonomi desa. Kalau dua mesin ini bertemu, pertumbuhan Indonesia bukan hanya besar secara angka, tetapi kuat karena ditopang masyarakat dan pengusaha di seluruh daerah,” ujar Anthony.

Baca juga: BPS: Konsumsi pemerintah pimpin pertumbuhan komponen pengeluaran TW-II

Baca juga: BPS: Manufaktur dan konsumsi RT topang ekonomi RI tumbuh 5,29 persen

Baca juga: MAMI sebut konsumsi domestik hadapi tantangan di kuartal II 2026

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.