Hina Wanita Thailand di Kereta, 5 Pelajar Italia Minta Maaf dan Didenda
Liputan6.com, Jakarta - Lima pelajar Italia yang viral karena bersikap tidak sopan di dalam kereta BTS Skytrain Bangkok akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada seorang perempuan Thailand yang mereka hina.
Kasus tersebut pun resmi diselesaikan setelah para pelajar membayar denda yang dijatuhkan polisi.
Mediasi berlangsung di Kantor Polisi Samrae, Bangkok, Sabtu (25/7), dan dihadiri lima pelajar, seorang guru pendamping, korban bernama Sugus, serta penerjemah. Proses mediasi berlangsung lebih dari satu jam.
Dalam pertemuan itu, para pelajar mengakui perilaku mereka tidak pantas dan menyampaikan permintaan maaf secara langsung.
Mereka juga meminta maaf kepada masyarakat Thailand atas insiden yang memicu kemarahan publik.
Kronologi
Seperti dilansir Bangkok Post, kasus ini bermula ketika rombongan pelajar tersebut berbicara dengan suara keras dan mengganggu penumpang lain di dalam BTS Skytrain.
Saat itu, seorang perempuan Thailand, Sugus, menegur mereka dengan sopan agar lebih tenang. Tapi, ia justru mendapat respons kasar.
Salah seorang pelajar bahkan mengacungkan jari tengah, sementara yang lain melontarkan ucapan bernada merendahkan.
"Maaf kami membawa uang ke negara kalian," kata dia.
Insiden itu terekam video dan viral di media sosial, sehingga menuai kecaman luas.
Usai menerima permintaan maaf, Sugus menyatakan bersedia mengakhiri persoalan tersebut. Kedua belah pihak sepakat untuk tidak menempuh jalur hukum lebih lanjut dan menghapus seluruh foto maupun video terkait insiden itu dari perangkat pribadi maupun media sosial.
Polisi kemudian menjatuhkan denda kepada lima pelajar masing-masing sebesar 1.000 baht (sekitar Rp 531.000) atas pelanggaran berupa penghinaan terhadap orang lain.
Sementara pelajar yang terekam mengacungkan jari tengah dikenai tambahan denda 1.000 baht karena melakukan tindakan tidak senonoh di tempat umum, sehingga total dendanya menjadi 2.000 baht (sekitar Rp 1.062.000).
Setelah seluruh proses hukum dan mediasi selesai, kasus tersebut resmi dinyatakan berakhir.
Dalam unggahan di media sosial, Sugus mengatakan ia memilih menerima permintaan maaf karena percaya setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
Ia juga mengimbau masyarakat menghentikan perundungan terhadap para pelajar tersebut agar persoalan ini tidak terus berlarut-larut.