Hikayat Situs Bongal di Tapanuli Tengah, Berawal dari Temuan Emas Hingga Koin Bani Umayyah |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, Situs Bongal yang berada di tepi Sungai Lumut dengan muara Teluk Sibolga, menjadi sebuah peninggalan purbakala yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Ekskavasi situs tersebut berpotensi mengubah lini masa masuknya Islam ke Nusantara mengingat adanya temuan artefak berupa koin yang berasal dari abad ke-7 hingga 8 Masehi.
Desa Jago-Jago merupakan daerah dimana Situs Bongal berasal. Desa yang berada di Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara ini dinamakan Jago-Jago, lantaran menjadi tempat berjaga atau pos jaga pada masa kolonial. Penamaan tersebut berasal dari kata Jago-Jago yang dalam bahasa pesisir berarti jaga-jaga atau tempat untuk berjaga.
Pada tahun 1920, yakni sebelum dibuka jalan raya, masyarakat menggunakan Sungai Lumut sebagai jalur lintas untuk menghubungkan satu daerah ke daerah lainnya. Hal ini terlihat dari peta kolonial tahun 1943 yang menyebutkan kawasan Jago-jago.
Setelah dibukanya kawasan pemukiman di desa jago-jago pada tahun 1980, banyak wargayang pergi ke kaki bukit Bongal untuk membuka perkebunan dan persawahan. Kegiatan berkebun tersebut berlangsung hingga tahun 1990-an hal ini disebabkan karena sebagian warga telah menjual tanah mereka yang terletak di kaki bukit Bongal. Hal ini disebabkan banyak masyarakat yang lebih memilih untuk menjadi nelayan dari pada bersawah di kaki bukit Bongal.
Pada 2001, Desa Jago-jago termasuk kedalam wilayah administrasi Kecamatan Lumut yang saat ini berganti menjadi Kecamatan Badiri. Wilayah Kecamatan Lumut memiliki luas 207,81 km persegi dengan jumlah desa 14 dan penduduk 30.326 jiwa. Wilayah Kecamatan Lumut dilingkupi oleh perbukitan dengan mata pencaharian penduduk berasal dari sektor perikanan, dan perkebunan (Pertanda et al., 2001).
Pada saat aktifitas berkebun tersebut berlangsung, dilaporkan penemuan oleh warga masyarakat berupa arca patung yang terbuat dari batu di dalam hutan bukit Bongal. Di dalam laporan BPA Balai Arkeologi Sumatera Utara Nomor 6 2001 disebutkan adanya temuan arca Ganesha di lereng bukit Bongal desa Jago-Jago, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Semenjak banyak warga menjual tanahnya yang berada di kaki bukit Bongal, hanya sedikit warga yang melakukan aktifitas perkebunan. Hingga pada 2009, salah seorang masyarakat yang telah membeli tanah di kawasan kaki bukit Bongal tersebut membuka kembali perkebunan untuk tanaman jeruk dan palawija.