asiawebawards.com
  • 2026-08-18 11:45:52 +0000 UTC

    Aug 18, 2026

    Hewan Mungil Pembunuh Massal Pepohonan, Ilmuwan Cemas

    Jakarta -

    Kota itu dijuluki Oak City (Kota Ek) bukan tanpa alasan. Bahkan sedekade lalu, jalan-jalan di Stellenbosch, Afrika Selatan, masih dibatasi deretan pohon ek Inggris menjulang tinggi berusia ratusan tahun. Pemukim Eropa membawa spesies tersebut berabad silam dan pohon itu tumbuh subur.

    Namun kini, pohon-pohon tersebut sekarat dihancurkan penggerek lubang polifagus (polyphagous shot hole borer), sejenis kumbang invasif yang menginfeksi pohon ek dan setidaknya 600 spesies tanaman lain.

    Kumbang betina melubangi batang seukuran tusuk gigi, bertelur, dan menginokulasi kayu dengan jamur yang menghasilkan makanan. Jamur dan terowongan kumbang menyumbat saluran air pohon, terkadang membunuhnya.

    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

    "Kita kehilangan banyak kanopi hutan kota," ujar David Richardson, pakar biologi Universitas Stellenbosch. Kerusakannya meluas jauh melampaui Stellenbosch yang dikutip detikINET dari Science.org.

    Pohon-pohon di dunia dikepung beragam serangga invasif namun banyak dari mereka hanya mengkhususkan diri pada satu kelompok pohon tertentu. Berbeda dengan penggerek lubang polifagus yang merupakan ancaman serba bisa, mampu menginfeksi banyak tanaman berkayu.

    Terlebih, hanya butuh satu kumbang betina untuk memulai serangan karena telur yang tidak dibuahi dapat berkembang menjadi pejantan, yang kemudian dapat dikawini oleh si betina.

    Berasal dari China, Taiwan, dan Vietnam, serangga mungil ini mudah menyusup ke kayu, peti kemas, dan tanaman, serta telah mencapai tak hanya Afrika Selatan, tapi juga setengah lusin negara lain.

    Studi di Journal of Pest Science menggunakan perangkat genetik untuk memetakan invasi serangga ini dan meramalkan penyebarannya. Tim peneliti memperkirakan kumbang ini pada akhirnya bisa menyebar ke wilayah Mediterania, Amerika Serikat tenggara, Madagaskar, hampir seluruh Australia bagian timur, dan tempat lainnya.

    "Penggerek ini bagaikan badai sempurna yang sedang berproses," kata Esteban Ceriani Nakamurakare, ahli entomologi hutan di National Scientific and Technical Research Council Argentina sekaligus rekan penulis makalah. Jika dibiarkan, hama ini secara fundamental akan mengubah struktur ekosistem di mana pun ia menyebar.

    Di Amerika Selatan, tempat penggerek ini menyebar di sepanjang 3.500 kilometer garis pantai sejak pertama terdeteksi di Brasil tahun 2020, Nakamurakare dan rekan menemukan pohon-pohon lanskap favorit, yaitu spesies impor seperti box elder dan plane, menjadi inang utamanya.

    Adapun kerusakannya tak terbatas pada hutan kota. Setelah tiba di Afsel tahun 2012, ia menumbangkan pohon-pohon di Stellenbosch, Cape Town, dan wilayah perkotaan lainnya. Namun kini ia menetap dengan kuat di banyak hutan asli dan mulai membunuh beberapa spesies.

    Di AS, kumbang tersebut pindah dari California Selatan, tempat ia pertama kali terdeteksi, menuju San Jose. Itu memicu ketakutan suatu hari kumbang ini menyebar ke perkebunan almon, pistachio, dan tanaman lain di Central Valley yang subur. "Ini ancaman serius," kata Shannon Lynch, ahli patologi hutan di UC Davis.

    Berbagai kelompok tengah mempelajari cara mencegah penyebarannya. Paul Rugman-Jones, ahli entomologi UC Riverside, mengeksplorasi apakah tawon parasitoid yang menjadi musuh alami penggerek ini dapat digunakan untuk mengendalikannya di California.

    Australia menghabiskan USD 40 juta memangkas atau menebang 5.000 pohon di Perth setelah penggerek lubang ini terdeteksi tahun 2021. Upaya ini gagal membasmi mereka namun menurut studi, kumbang tersebut belum mencapai habitat idealnya. Pencegahan dan deteksi dini pun dinilai sangatlah krusial.

    (fyk/fay)

    TAGS

    LIHAT LAINNYA

    2026-08-18 11:45:52 +0000 UTC