Jakarta, CNBC Indonesia - Mar'ie Muhammad pernah melakukan sesuatu yang mengejutkan saat masih menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak. September 1989, dia diketahui melakukan pendataan ulang dengan mengukur rumah pribadi Presiden Soeharto.

Dia datang bersama sejumlah petugas membawa meteran ke rumah yang berada di kawasan Jalan Cendana, Jakarta Pusat. Saat itu tim melakukan pengukuran langsung luas tanah dan bangunan rumah tersebut.

Jelas, upaya itu mengejutkan. Sebab tak ada yang bisa melakukan hal serupa sebelumnya kepada presiden sebelumnya.

Harian Neraca (25 September 1989) menyebutkan tim Mar'ie disambut dengan baik oleh Soeharto. Orang yang memimpin Indonesia selama 32 tahun itu juga mempersilahkan petugas melakukan pekerjaannya.

Data-data yang didapatkan akan menjadi dasar pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan. Soeharto juga mengaku terdapat perubahan pada bangunan dan luas tanah rumahnya sejak dibeli.

Dari hasil pengukuran tercatat rumah Jalan Cendana nomor 6 memiliki lahan seluas 1.635 meter persegi. Rumah nomor 8 disebut memiliki luas tanah 1.463 meter dan nomor 10 berukuran 956 meter persegi.

Kedatangan ke rumah Soeharto menjadi bagian agenda Direktorat Jenderal Pajak untuk meningkatkan penerimaan negara dari sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Pemerintah menilai penerimaan sektor itu masih jauh dari optimal.

Padahal faktanya bisnis properti berkembang pesat pada akhir 1980-an. Banyak rumah mewah bermunculan, begitu juga gedung perkantoran yang bertambah di Jakarta.

PBB memiliki peranan penting, sebab jadi salah satu sumber pendapatan untuk pemerintah daerah.

Mar'ie mencoba untuk mengubah keadaan dengan mendatangi rumah Soeharto. Hal ini bisa diartikan bahwa petugas pajak mendatangi seluruh pemilik tanah dan bangunan dengan tanpa membedakan status ataupun jabatan.

"Tidak ada orang yang kebal terhadap pajak," kata Mar'ie, setelah melakukan pengukuran rumah Soeharto, dikutip dari koran Neraca (25 September 1989).

Upaya itu berdampak pada pengumpulan penerimaan pajak non-migas sebesar Rp 19 triliun selama kepemimpinan Mar'ie tahun 1988-1992. Jumlah itu melonjak lebih dari dua kali lipat dari target pemerinta sebesar Rp 9 triliun.

(mfa/haa) [Gambas:Video CNBC]