Liputan6.com, Jakarta - Prospek harga emas dinilai tetap kokoh meski Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) melanjutkan tren kenaikan suku bunga acuan. Lembaga keuangan Standard Chartered menilai keterkaitan klasik antara pergerakan harga komoditas emas dan suku bunga The Fed mulai memudar, tergeser oleh faktor fundamental baru seperti dedolarisasi dan aksi borong bank sentral dunia.
Kepala Riset Komoditas Global Standard Chartered, Suki Cooper, menjelaskan bahwa harga emas sempat tertekan usai The Fed mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin. Namun, harganya berangsur pulih dan kini tengah mencari titik keseimbangan baru di sekitar rata-rata pergerakan 50 harian.
Menurut Cooper, fokus perhatian para pelaku pasar global saat ini telah bergeser dari dinamika suku bunga jangka pendek menuju isu-isu struktural jangka panjang.
"Perhatian pasar bukan lagi soal naik-turunnya suku bunga jangka pendek, melainkan isu yang lebih besar seperti upaya pengurangan ketergantungan pada dolar AS (dedollarization), kekhawatiran devaluasi mata uang, hingga potensi intervensi otoritas di pasar keuangan," ujar Cooper dikutip dari Kitco, Selasa (22/9/2026).
Aksi pemborongan emas oleh bank-bank sentral dunia juga dinilai menjadi benteng kuat yang menjaga harga emas agar tidak anjlok terlalu dalam.
Atas dasar dinamika tersebut, Standard Chartered memproyeksikan rata-rata harga emas bakal melompat hingga US$ 4.650 per ons pada kuartal IV 2026, melesat dari estimasi kuartal III yang berada di kisaran US$ 4.350 per ons.
Sensitivitas Emas terhadap Obligasi Mengendur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309011/original/063278500_1785214678-ChatGPT_Image_Jul_28__2026__07_13_04_AM.jpg)
Perbesar
Data riset Standard Chartered menunjukkan bahwa sensitivitas emas terhadap imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS kian melonggar. Korelasi harga emas terhadap yield tenor panjang (10 dan 30 tahun) tercatat mendekati netral. Sementara korelasinya terhadap yield riil tenor pendek (2 dan 5 tahun) juga melemah signifikan.
Kondisi ini terbilang kontras jika dibandingkan awal tahun. Saat pasar memprediksi The Fed bakal memangkas suku bunga, emas berada di level US$ 4.500 per ons. Kini, meski The Fed malah menaikkan suku bunga dan memberi sinyal pengetatan lanjutan, harga emas tetap bertahan kokoh tidak jauh dari level tersebut.
Arus dana masuk (inflow) ke produk investasi emas berbasis Exchange-Traded Product (ETP) diperkirakan tetap deras. Tren positif ini melanjutkan pencapaian Agustus dengan masuknya aliran dana sebesar 121 ton, rekor bulanan tertinggi sejak September 2025. Masuknya dana segar ini terjadi bahkan saat yield obligasi AS tenor 10 tahun sempat menyentuh level psikologis 5%.
Terkait posisi spekulatif di pasar berjangka, Cooper menilai belum ada indikasi overcrowded. Jelang rapat moneter The Fed, sejumlah investor taktis memang melakukan aksi ambil untung (profit taking) yang memicu penurunan net fund length terbesar sejak Maret, tetapi kondisi tersebut dinilai wajar dan bukan sinyal pembalikan arah tren utama.
Korelasi Terbalik Emas dan Dolar AS
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310806/original/096451100_1785371567-ChatGPT_Image_Jul_30__2026__07_24_25_AM.jpg)
Perbesar
Meski optimis dalam jangka panjang, Cooper mengingatkan investor untuk tetap mewaspadai pergerakan nilai tukar dolar AS dalam jangka pendek.
Ia memaparkan bahwa korelasi terbalik antara emas dan dolar AS dalam tiga bulan terakhir masih tergolong kuat di kisaran 54%, jauh lebih dominan ketimbang pengaruh suku bunga riil saat ini. Kenaikan suku bunga pada September sempat meredakan kekhawatiran pelemahan mata uang sekaligus menaikkan daya tarik imbal hasil dolar AS.
Namun karena pelaku pasar telah mengantisipasi kenaikan suku bunga sejak awal, aksi jual (sell-off) usai pengumuman keputusan The Fed berlangsung relatif singkat. Net fund length saat ini masih tergolong solid di level 34% dari total open interest, yang dinilai Standard Chartered masih dalam batas aman.
Adapun jajaran ekonom Standard Chartered memprediksi The Fed masih akan menaikkan suku bunga satu kali lagi pada Desember 2026, yang diikuti oleh penyesuaian proyeksi yield obligasi di berbagai tenor.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6