Harapkan Lulusan UII Siap Kerja, Rektor: Jika Perlu Masa Tunggu Nol Tahun |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Prof Hari Purnomo mengungkapkan ambisinya membawa kampus yang dipimpinnya menjadi kampus swasta terbaik di Indonesia. Hari, yang baru saja dilantik menjadi Rektor UII periode 2026-2030 tersebut berharap lulusan UII benar-benar siap kerja sejak mereka selesai kuliah.
"Perguruan tinggi yang baik adalah yang mahasiswanya memiliki masa tunggu nol tahun, begitu lulus langsung kerja," ujar Hari saat acara Temu Media Universitas Islam Indonesia di Pawon Mbah Gito, Sleman, DIY, Rabu (29/7/2026).
Selama ini, tutur Hari, baru sebagian saja lulusan UII yang memiliki masa tunggu nol tahun sebelum masuk ke dunia kerja. Ia berharap pada periode kepemimpinannya nanti seluruh lulusan UII benar-benar tak ada lagi yang menunggu berbulan-bulan sebelum masuk ke dunia kerja.
Untuk mewujudkan hal tersebut, mahasiswa UII saat ini tidak cukup hanya mengejar ijazah dan mendapatkan nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) yang baik. Mereka juga dituntut memiliki kompetensi yang unggul.
Oleh karena itu, saat ini UII terus mendorong mahasiswanya untuk meningkatkan kompetensi. UII juga akan terus menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi mereka secara utuh.
Hari pun yakin dengan bantuan 130 ribu lebih alumni yang tersebar di berbagai penjuru tanah air termasuk di luar negeri, UII akan tetap menjadi kampus yang kompetitif. "Dengan kontribusi alumni nantinya saya yakin kami bisa bersaing dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi yang lain," ujar Hari.
Singgung Kampus Asing
Dalam kesempatan tersebut, Hari juga menyoroti keberadaan kampus asing di Indonesia. Menurut mantan Dekan Fakultas Teknologi Industri UII 2018-2022 dan 2022-2026 tersebut keberadaan kampus asing merupakan cermin ketidakadilan karena mereka tidak mau mengikuti akreditasi nasional.
Selain itu, kampus-kampus asing tersebut juga tidak memiliki kualitas yang sama dengan kampus di tempat asalnya. Oleh karena itu, ia mengimbau pemerintah untuk mengevaluasi kembali kebijakan memberikan izin kampus-kampus asing berdiri di Indonesia.
"Hal ini telah kami suarakan terus ke pemerintah. Karena menurut kami kampus yang baik adalah kampus yang selalu menjaga kualitasnya. Kalau mereka (kampus-kampus) asing tidak ikut akreditasi nasional bagaimana cara mereka menjaga kualitas?" kata Hari.
Pencapaian UII
Kepada para wartawan, Hari juga memaparkan berbagai capaian UII dalam beberapa tahun terakhir. Ia pun meyatakan UII mensyukuri capaian tersebut sebagai penyemangat untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat riset dan inovasi, serta menghadirkan manfaat yang semakin nyata bagi masyarakat.
"Pendidikan tinggi menghadapi perubahan yang cepat. UII perlu terus belajar, berbenah, dan membangun kolaborasi agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan zaman," kata Hari.
Hari pun menyatakan bersyukur karena animo calon mahasiswa UII pada pada Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027 menunjukkan perkembangan positif dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
"Perkembangan ini menjadi amanah bagi UII untuk terus meningkatkan mutu pembelajaran dan layanan kepada mahasiswa," katanya.
Hari memaparkan, UII berada pada kelompok peringkat 401–600 dunia dalam Times Higher Education Impact Rankings 2026. Hasil ini mencerminkan berbagai ikhtiar UII dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
"Pemeringkatan tersebut menjadi pengingat bagi UII untuk terus menghadirkan prinsip keberlanjutan dalam pembelajaran, riset, tata kelola kampus, kemitraan, dan pengabdian kepada masyarakat," katanya.
Di bidang riset, inovasi, dan kewirausahaan, UII meluncurkan HKI Corner sebagai layanan pendampingan bagi sivitas akademika dalam pengajuan dan pengelolaan kekayaan intelektual, terutama paten. Kehadiran layanan ini diharapkan membantu gagasan dan hasil penelitian warga UII berkembang menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Sementara itu, tiga dosen UII tercatat dalam World’s Top 5% Scientists versi SciRank Global Registry 2025, yaitu: Ganjar Fadillah dari Program Studi Analisis Kimia; Prof Fatimah dari Program Studi Kimia; dan Prof Muafi dari Program Studi Manajemen.
"Capaian para dosen tersebut menjadi penyemangat bagi UII untuk terus memperkuat ekosistem dan kualitas riset," katanya.
Di bidang kemitraan, UII memperkuat kemitraan dengan Pemerintah Kabupaten Sleman, Pemerintah Kabupaten Temanggung, dan Pemerintah Kota Pekalongan melalui kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
UII juga sedang menjajaki kerja sama strategis dengan Pemerintah Kabupaten Ngawi dan Pemerintah Kabupaten Bantul. Penjajakan ini merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring serta mempertemukan sumber daya akademik UII dengan kebutuhan pembangunan daerah.
UII ingin memastikan agar setiap dokumen kerja sama dilanjutkan dengan program konkret yang menjawab kebutuhan daerah dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
"UII mensyukuri berbagai perkembangan tersebut sembari menyadari bahwa masih banyak ruang yang perlu diperbaiki dan banyak persoalan masyarakat yang membutuhkan kontribusi perguruan tinggi. UII ingin terus bertumbuh sebagai universitas yang unggul secara akademik, kuat nilai-nilainya, terbuka terhadap kolaborasi, dan semakin nyata manfaatnya bagi masyarakat," katanya.