asiawebawards.com
  • 2026-08-06 06:49:14 +0000 UTC

    Aug 06, 2026

    Guru Besar UI: Community Investment Harus Dimulai dari Kebutuhan-Aset

    Jakarta, CNN Indonesia --

    Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) Isbandi Rukminto Adi menilai program community investment atau investasi sosial tidak boleh hanya berangkat dari asumsi perusahaan, tetapi harus diawali dengan pemetaan kebutuhan serta potensi yang dimiliki masyarakat.

    Hal itu disampaikan Isbandi dalam panel diskusi Designing Community Investment for Social Impact pada Bangun Bangsa Conference 2026 bertajuk Sustainable Community Growth: Shaping Indonesia's Future Inclusive Economy di Menara Bank Mega, Jakarta, Kamis (6/8).

    Menurut Isbandi, keberhasilan sebuah program pemberdayaan sangat ditentukan oleh tujuan awal yang ingin dicapai, apakah berorientasi pada layanan kemanusiaan, pengembangan ekonomi masyarakat, atau tujuan sosial lainnya. Tujuan tersebut akan mempengaruhi pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan program.

    ADVERTISEMENT

    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

    "Community investment itu harus melihat dulu apa tujuannya. Karena tujuan awal akan mempengaruhi cara pendekatannya sehingga dampak yang diharapkan bisa tercapai," ujarnya.

    Ia mengatakan perancangan program juga harus didahului dengan asesmen terhadap kebutuhan masyarakat (needs assessment) sekaligus mengidentifikasi aset atau potensi yang sudah dimiliki masyarakat.

    Menurutnya, pendekatan berbasis aset (asset-based approach) penting agar masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai pihak yang memiliki modal untuk berkembang.

    "Sering kali kita tidak bisa hanya selalu mulai dari menganalisis masalahnya, tetapi juga bisa mulai dari kapital yang dimiliki masyarakat itu sendiri. Dari kapital itulah kita memunculkan apa yang ingin mereka lakukan," katanya.

    Selain itu, Isbandi menilai proses pendampingan menjadi faktor penting dalam memastikan program berjalan berkelanjutan. Ia menegaskan pendamping tidak berperan sebagai ahli yang membawa solusi, melainkan bekerja bersama masyarakat untuk membangun sistem yang mampu berjalan secara mandiri.

    "Community worker itu bukan expert. Pendamping bekerja bersama masyarakat untuk mencari solusi dan membangun sistem supaya masyarakat bisa mandiri," ujarnya.

    Isbandi menambahkan proses asesmen tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang sebelum program dijalankan. Menurutnya, asesmen dapat dilakukan bersamaan dengan proses pendampingan sehingga masyarakat dan pendamping saling belajar memahami kondisi di lapangan.

    "Riset secara mendalam itu jangan dibayangkan kita riset dulu baru bekerja. Justru kita berjalan bersama masyarakat. Kita belajar dari masyarakat, masyarakat juga belajar dari kita," jelasnya.

    Ia juga menekankan pentingnya menyiapkan strategi keluar (exit strategy) sejak awal pelaksanaan program agar masyarakat mampu melanjutkan program secara mandiri setelah perusahaan tidak lagi memberikan pendampingan.

    "Kalau kita menargetkan setelah tiga tahun perusahaan keluar dari komunitas tersebut, maka exit strategy harus sudah disiapkan sejak awal. Masyarakat harus tahu bahwa setelah itu mereka akan mandiri," katanya.

    Lebih lanjut, Isbandi mengatakan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, hingga media diperlukan untuk memperkuat keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat.

    "Kalau kita lihat kerangkanya, ada pemerintah, korporasi, NGO, media, dan perguruan tinggi. Semua itu saling melengkapi untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat," ujarnya.

    (lau/agt)

    2026-08-06 06:49:14 +0000 UTC