Kamis, 10 September 2026, 17:24 WIB

Warta Ekonomi, Jakarta -

Mulai panas dinamika di antara partai-partai pendukung pemerintahan dari Presiden Prabowo Subianto. Hal tersebut juga diprediksi bakal semakin panas menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.

Direktur Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti bahkan menilai presiden berpotensi lebih banyak disibukkan oleh dinamika politik yang datang dari anggota koalisinya sendiri. Prediksi tersebut muncul di tengah munculnya berbagai manuver politik dari sejumlah kekuatan yang berada di sekitar pemerintahan. 

Baca Juga: Demokrat Ngamuk, Tuntut Golkar Minta Maaf Soal Tuduhan ke AHY: Jangan Saling Curiga dan Ambil...

“Saya sudah berulang kali mengatakan bahwa pada akhirnya pemerintahan presiden saat ini akan disibukkan oleh tingkah laku dari anggota koalisinya sendiri,” kata Ray, dikutip Kamis (10/9/2026).

Ray menilai tanda-tanda dinamika tersebut sudah dapat dicermati dari munculnya sejumlah poros politik. Salah satunya adalah poros yang ia sebut sebagai Poros Solo alias Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Salah satu hal yang menjadi sorotannya adalah pernyataan dari Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi. Ray menyoroti pertemuan dari Jokowi dan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao. Menurut Ray, pertemuan tersebut berlangsung ketika Prabowo di Rusia.

Ray menyebut rangkaian aktivitas tersebut sebagai bagian dari dinamika politik yang perlu dicermati menjelang kontestasi 2029. Namun, ia tidak menyatakan bahwa seluruh aktivitas tersebut secara otomatis merupakan bentuk pertentangan terhadap pemerintahan Prabowo.

Di sisi lain, ia juga melihat adanya poros lain yang ia sebut sebagai Poros Cikeas atau Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Pidatonya baru-baru ini menjadi salah satu perhatian Ray. Dalam pidatonya, ia menyampaikan pesan bahwa kekuasaan tidak dimiliki selamanya oleh seseorang. Pernyataan tersebut kemudian memunculkan spekulasi mengenai arah politik dari AHY.

Salah satunya datang dari Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia. Ia  membaca adanya sinyal politik dari Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Ia dinilai sudah siap untuk menjadi lawan bagi Prabowo Subianto di Pilpres 2029.

Doli menilai pernyataan politikus itu mengenai kekuasaan yang bukan milik seseorang untuk selamanya tidak hanya dapat dibaca sebagai pesan tentang demokrasi.

Menurutnya, cara menyampaikan pernyataan tersebut, termasuk gestur dan posisi politiknya, memberi kesan bahwa politikus itu tengah mempersiapkan diri sebagai salah satu kandidat pada Pilpres 2029.

Hal itu sendiri tidak diterima oleh Kader Partai Demokrat Boni Jebarus. Ia mengecam keras komentar dari Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia. 

Boni mengatakan komentar sosok itu berpotensi mengganggu soliditas koalisi pemerintahan dari Prabowo-Gibran. Ia bahkan membaca adanya gelagat upaya mengadu domba antaranggota koalisi yang tengah dilakukan oleh Golkar.

Ray sendiri menilai munculnya manuver dari berbagai poros merupakan konsekuensi dari semakin dekatnya persaingan politik nasional.

Baca Juga: Pengaruhi Pandangan Hakim, Sesumbar Roy Suryo Bisa Menjadi Petaka di Kasus Ijazah Jokowi

“Dalam kerangka itulah kadang-kadang mereka bisa memperlihatkan satu sikap yang bahkan boleh jadi tidak terkait dengan Presiden Prabowo,” tuturnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar