Ambon (ANTARA) -
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Maluku, membina kelompok nelayan Negeri Assilulu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, melalui penguatan pengetahuan dan kapasitas pengelolaan sumber daya pesisir dan laut secara berkelanjutan.
“Tugas kami sebagai akademisi adalah membantu mengkajinya dan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Negeri sehingga ke depan ada penguatan pengelolaan sumber daya pesisir dan laut di Assilulu,” kata Dekan FPIK Unpatti Ambon Prof Dr Yoisye Lopulalan di Ambon, Minggu.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tersebut melibatkan 27 nelayan dan dosen FPIK Unpatti di Rumah Raja Negeri Assilulu, sebagai bagian dari rangkaian program FPIK Menuju Desa Binaan dalam rangka Dies Natalis ke-44 FPIK Unpatti Tahun 2026.
Kegiatan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara akademisi dan nelayan mengenai perubahan kondisi lingkungan, aktivitas penangkapan, serta potensi pengelolaan sumber daya laut.
Ia mengatakan pengalaman dan pengetahuan lokal nelayan penting dipadukan dengan kajian ilmiah untuk menghasilkan rekomendasi pengelolaan sumber daya yang sesuai dengan kondisi Negeri Assilulu.
“Diskusi ini sangat menarik karena masyarakat berbagi banyak informasi mengenai fenomena-fenomena yang mereka alami dan amati secara langsung. Informasi dari masyarakat ini penting untuk dipadukan dengan pengetahuan ilmiah,” ujar dia.
Menurut dia, informasi yang diperoleh dari nelayan dapat menjadi dasar bagi FPIK Unpatti untuk memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Negeri Assilulu dalam memperkuat pengelolaan sumber daya pesisir dan laut.
Dalam kegiatan tersebut, empat bidang keilmuan FPIK Unpatti terlibat, yakni Ilmu Kelautan, Oseanografi, Budidaya Perairan, dan Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan.
Diskusi mengenai aktivitas perikanan tangkap difasilitasi Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK Unpatti Ambon Dr Haruna. Nelayan diajak membandingkan kondisi aktivitas penangkapan pada masa lalu dengan kondisi saat ini, termasuk perubahan sumber daya dan berbagai fenomena yang mereka temui di laut.
Dalam diskusi tersebut, masyarakat juga menyampaikan harapan agar perlindungan wilayah pesisir dan laut diperkuat melalui regulasi di tingkat negeri.
Masyarakat berharap FPIK Unpatti bersama Pemerintah Negeri Assilulu dapat menindaklanjuti hasil kegiatan melalui penguatan pengelolaan sumber daya, termasuk kemungkinan penyusunan Peraturan Negeri sebagai instrumen perlindungan ekosistem laut sekaligus menjaga sumber mata pencaharian nelayan.
Salah satu peserta, Ahmad Kalauw mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap pendampingan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
“Kami masyarakat sangat senang dengan semua ilmu yang dibagikan. Semoga setelah kegiatan ini ada tindak lanjut, apalagi Assilulu sudah menjadi Desa Binaan FPIK,” ujar dia.
Ke depan, pengembangan Assilulu sebagai Desa Binaan FPIK Unpatti berpeluang diarahkan pada sejumlah kegiatan, seperti dokumentasi pengetahuan lokal nelayan, kajian kondisi sumber daya dan ekosistem pesisir, penguatan kelompok nelayan, pengembangan alternatif usaha perikanan, rehabilitasi ekosistem, serta dukungan akademik dalam penyusunan kebijakan pengelolaan sumber daya pesisir dan laut.
Melalui program tersebut, FPIK Unpatti berupaya membangun pola pendampingan yang menempatkan pengetahuan akademik dan pengalaman masyarakat sebagai dua sumber pengetahuan yang saling melengkapi untuk mendukung pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan Negeri Assilulu secara berkelanjutan.
Pewarta: Winda Herman
Editor : Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.