Banyak keluarga merasa tenang saat demam reda dan memilih pulang dari rumah sakit. Namun, pilihan ini bisa berakibat fatal karena fase kritis baru saja dimulai ketika demam berkurang.
Baca Juga: Mengapa Cuaca Panas Bisa Tingkatkan Risiko Demam Berdarah? Begini Penjelasan Ilmiahnya!
Apa Itu Fase Kritis Demam Berdarah
Fase kritis merupakan tahap penting dalam perjalanan penyakit DBD ketika terjadi peningkatan permeabilitas pada pembuluh darah. Hal ini menyebabkan plasma keluar dari pembuluh darah ke rongga tubuh, yang bisa menyebabkan syok hipovolemik.
Durasi fase ini berlangsung antara 24 hingga 48 jam dan menjadi momen penentu untuk kesembuhan atau parahnya penyakit. Berdasarkan panduan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) tahun 2023, pemantauan ketat selama fase ini sangat penting untuk menentukan tingkat keselamatan pasien DBD.
Kapan Fase Kritis DBD Terjadi
Fase kritis pada demam berdarah biasanya dimulai antara hari ketiga hingga ketujuh setelah demam pertama kali muncul. Fase ini ditandai dengan penurunan suhu tubuh ke kisaran 37 hingga 38 derajat Celsius atau bahkan kembali normal.
Waktu tepat dimulainya fasenya bisa berbeda untuk masing-masing pasien, tetapi risiko paling tinggi biasanya terjadi pada hari keempat dan kelima. Sebuah penelitian dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (2024) menunjukkan bahwa 70 persen dari komplikasi serius DBD terjadi dalam periode ini.
Tanda Bahaya Fase Kritis yang Perlu Diwaspadai
Nyeri Perut yang Parah dan Terus Menerus
Rasa sakit perut yang hebat adalah tanda awal dari kebocoran plasma dan pembesaran hati. Rasa sakit ini sering muncul di bagian ulu hati atau di seluruh area perut dan tidak membaik meskipun sudah diberi obat.
Jika anak atau pasien mengeluh sakit perut yang intens saat demam mulai mereda, segera bawa mereka ke rumah sakit. Hal ini bisa menjadi tanda awal fase kritis yang membutuhkan perawatan medis segera menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2024).
Muntah yang Terus Menerus
Muntah yang terjadi lebih dari tiga kali dalam sehari, terutama saat suhu tubuh mulai menurun, menunjukkan kondisi yang semakin memburuk. Muntah tersebut dapat berisi cairan jernih, makanan, atau bahkan darah dalam kasus yang serius.
Kondisi ini bisa menyebabkan dehidrasi dan memperparah kebocoran plasma. Pasien perlu mendapatkan cairan intravena untuk menjaga kestabilan volume darah.
Gelisah atau Penurunan Kesadaran
Perubahan sikap seperti gelisah berlebihan, mengantuk terus menerus, atau sulit dibangunkan menunjukkan adanya syok dengue. Otak tidak mendapatkan cukup oksigen karena penurunan volume darah.
Pada anak-anak, hal ini bisa ditunjukkan dengan tangisan tanpa alasan yang jelas atau menjadi sangat lemah dan tidak responsif. Segera carilah bantuan medis darurat jika gejala ini muncul.
Perdarahan Mendadak
Mimisan yang tiba-tiba, gusi yang berdarah, muntah darah, atau tinja berwarna hitam menunjukan rendahnya kadar trombosit dan pembuluh darah yang rentan. Perdarahan juga bisa muncul sebagai bercak merah di kulit yang tidak hilang saat ditekan.
Pada wanita, perdarahan menstruasi yang sangat banyak di luar siklus normal juga perlu diwaspadai. Kondisi ini memerlukan transfusi trombosit dan pengawasan ketat di rumah sakit.
Tangan dan Kaki Dingin dengan Keringat Dingin
Ekstremitas yang dingin dan berkeringat adalah indikasi awal syok dengue. Dalam kondisi ini, tubuh mengalirkan darah lebih banyak ke organ-organ penting seperti jantung dan otak, sehingga bagian tubuh lainnya mengalami kekurangan aliran darah.
Penting juga untuk memeriksa nadi yang menjadi lemah dan cepat. Jika bibir dan ujung jari tampak pucat atau kebiruan, ini adalah sinyal darurat yang memerlukan pemberian cairan dengan segera.
Baca Juga: Perbedaan Demam Dengue dan Demam Berdarah yang Perlu Diketahui
Pemeriksaan yang Perlu Dilakukan Selama Fase Kritis
Pemantauan hematokrit (Ht) sangat penting untuk mendeteksi terjadinya kebocoran plasma. Menurut pedoman WHO untuk DBD, jika hematokrit meningkat 20% atau lebih dari nilai awal, ini menandakan adanya kebocoran plasma.
Pemeriksaan trombosit sebaiknya dilakukan setiap 6 hingga 12 jam. Jika trombosit turun di bawah 100. 000/mm³ dan terjadi peningkatan hematokrit, maka pasien memasuki fase kritis.
Ultrasonografi (USG) abdomen bisa digunakan untuk mendeteksi adanya cairan bebas di rongga perut atau dada, sebagai tanda adanya kebocoran plasma, menurut panduan dari Indonesian Journal of Internal Medicine (2023).
Penanganan yang Benar Ketika Fase Kritis
Terapi utama dalam fase kritis DBD adalah rehidrasi dengan cairan intravena. Cairan kristaloid seperti ringer laktat atau ringer asetat diberikan dengan dosis yang disesuaikan berdasarkan kondisi pasien.
Pasien harus dirawat di rumah sakit dan tanda vitalnya dipantau setiap 1 hingga 2 jam. Apabila terjadi perdarahan terus-menerus atau trombosit sangat rendah dengan perdarahan aktif, transfusi trombosit akan dilakukan.
Pemberian obat untuk meredakan gejala, seperti antiemetik untuk mual dan antipiretik untuk demam, sangat penting untuk menjaga kenyamanan pasien sesuai dengan anjuran Kementerian Kesehatan RI (2024).
Fase Pemulihan Setelah Fase Kritis
Setelah melewati fase kritis dengan sukses, pasien biasanya akan memasuki fase pemulihan antara hari ke-7 hingga ke-10. Pada fase ini, nafsu makan akan meningkat, tidak ada lagi muntah, dan kondisi tubuh mulai membaik.
Hematokrit akan kembali normal dan trombosit akan mengalami peningkatan sedikit demi sedikit. Namun, pemulihan total memerlukan waktu 2 hingga 4 minggu, sehingga pasien memerlukan cukup istirahat dan nutrisi yang seimbang. Pemeriksaan ulang ke dokter tetap diperlukan untuk memastikan tidak ada komplikasi lebih lanjut.
Pencegahan Agar Tidak Mengalami Fase Kritis
Deteksi awal dan penanganan segera terhadap demam sangat penting untuk mengurangi tingkat keparahan fase kritis. Segera konsultasikan dengan dokter jika mengalami demam tinggi disertai gejala DBD seperti nyeri di belakang mata atau nyeri otot dan sendi.
Pastikan untuk mencukupi asupan cairan dengan minum air putih, jus buah, atau oralit setidaknya 2 hingga 3 liter setiap hari. Hindari penggunaan obat pereda nyeri dari golongan NSAID seperti aspirin atau ibuprofen, karena dapat meningkatkan risiko perdarahan.
Pastikan untuk beristirahat sepenuhnya dan tidak melakukan aktivitas berat sampai benar-benar sembuh, sesuai dengan rekomendasi Ikatan Dokter Indonesia (2024).
Fase kritis demam berdarah adalah 24 hingga 48 jam yang paling berisiko, yang terjadi saat demam mulai menurun antara hari ke-3 sampai ke-7.
Lima tanda peringatan yang harus diperhatikan adalah nyeri perut yang hebat, muntah yang terus-menerus, perubahan dalam kesadaran, perdarahan yang tidak terduga, dan ekstremitas dingin.
Pemantauan hematokrit dan trombosit adalah kunci untuk deteksi dini kebocoran plasma.
Dengan penanganan yang benar, termasuk rehidrasi intravena di rumah sakit, syok dengue yang berbahaya dapat dihindari.
Jangan anggap remeh kondisi pasien DBD meskipun demamnya sudah turun, karena fase kritis justru bisa dimulai pada saat itu. Kewaspadaan dari keluarga dan penanganan medis yang cepat sangat penting untuk menyelamatkan nyawa.