asiawebawards.com
  • 2026-07-21 12:58:28 +0000 UTC

    Jul 21, 2026

    Faktor-faktor yang bisa mempengaruhi kesehatan mental anak

    Faktor-faktor yang bisa mempengaruhi kesehatan mental anak

    Selasa, 21 Juli 2026 19:58 WIB

    Image Print

    Arsip Foto - Warga membuka aplikasi Jateng Ngopeni Nglakoni (JNN) untuk mengakses Layanan Online Psikolog Gratis (Logis) di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (3/7/2026). Layanan itu dihadirkan untuk mendeteksi dini masalah kesehatan mental warga, khususnya anak-anak dan pelajar. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.

    Jakarta (ANTARA) - Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yuniarto menyampaikan bahwa kesehatan mental anak dipengaruhi faktor seperti pola pengasuhan serta tekanan dalam keluarga dan lingkungan sekolah.

    "Perilaku parenting dari orang tua, yang punya target tertentu, yang senantiasa menekan anaknya, sehingga anak dalam suasana under pressure," katanya dalam webinar yang diikuti di Jakarta pada Selasa.

    Oleh karena itu, ia mengajak para orang tua untuk berupaya menghadirkan suasana yang hangat dan penuh kasih sayang bagi anak serta menerapkan konsep asah, asih, dan asuh dalam mendidik anak.

    "Kita seringkali mengira bahwa anak-anak ini belum saatnya atau jarang mengalami gangguan mental. Tetapi ternyata tidak seperti itu ya, gangguan pada anak tidak mudah dideteksi, sehingga dibutuhkan kepekaan dari orang tua," katanya.

    Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI dr. Angga Wirahmadi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S.(K) mengatakan bahwa para remaja juga menghadapi faktor-faktor yang berisiko memicu masalah kesehatan mental.

    "Pada fase ini berbagai faktor risiko mulai terbentuk, baik untuk penyakit fisik maupun kesehatan mental," katanya.

    Menurut dia, kesehatan mental remaja bisa dipengaruhi oleh faktor seperti lingkungan pertemanan, lingkungan sekolah, penggunaan media sosial, konflik dalam keluarga, sampai gaya hidup yang tidak sehat.

    Angga mengemukakan pentingnya memperhatikan kondisi kesehatan mental remaja menyusul kasus peledakan bom rakitan yang diduga dilakukan oleh seorang pelajar di MAN 3 Kota Padang.

    Seorang siswa MAN 3 Kota Padang diduga membawa dan meledakkan bom rakitan berdaya ledak rendah di lingkungan sekolahnya pada Selasa (14/7).

    Kejadian itu tidak menimbulkan korban, tetapi menyebabkan kepanikan di lingkungan sekolah.

    Berdasarkan hasil pemeriksaan, pelajar berusia 17 tahun yang diduga meledakkan bom rakitan itu merupakan korban perundungan.

    Dia belajar merakit bom dari internet dan YouTube, membeli bahan dan alatnya dari toko daring, serta merakit bom di rumah tanpa sepengetahuan anggota keluarga yang lain.

    Pewarta : Sinta Ambarwati
    Editor: Victorianus Sat Pranyoto
    COPYRIGHT © ANTARA 2026

    2026-07-21 12:58:28 +0000 UTC