asiawebawards.com
  • 2026-07-28 23:05:14 +0000 UTC

    Jul 28, 2026

    Fakta-fakta Suhu Bediding di Pulau Jawa, Ini Penyebab hingga Daerah Paling Dingin

    Jakarta -

    Netizen belakangan menyoroti suhu udara yang terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari, khususnya di sejumlah wilayah di Pulau Jawa. Fenomena ini dikenal sebagai bediding atau dalam bahasa Jawa disebut 'Bedhidhing' dan umumnya terjadi saat musim kemarau.

    "Cirebon daerah Sepantura ini kena angin dingin, dan suhu segini aja gue langsung pilek. Mana airnya dingin banget," ucap salah satu netizen @Ich*******, dikutip dari X.

    "Gue bisa merasakan jari-jari kaku di Jatinangor dingin banget," ucap netizen lainnya @koi*******.

    ADVERTISEMENT

    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, fenomena suhu dingin tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya penguatan Monsun Australia. Angin musim yang membawa massa udara kering tersebut dapat mengurangi kandungan uap air dan pembentukan awan di atmosfer.

    Minimnya tutupan awan membuat panas dari permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya, suhu udara dapat turun cukup signifikan, terutama menjelang pagi hari.

    "Tanpa selimut awan, panas bumi terlepas bebas ke angkasa di malam hari yang membuat suhu minimum anjrok drastis, khususnya menjelang pagi hari," kata BMKG, dikutip dari Instagram resmi, Selasa (28/7/2026).

    Senada, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Dr Givo Alsepan juga menjelaskan bediding merupakan fenomena atmosfer yang normal terjadi selama musim kemarau. Fenomena ini tidak berdiri sendiri melainkan manifestasi dari proses fisik atmosfer.

    "Kondisi ini terjadi ketika suhu minimum harian turun cukup signifikan akibat pendinginan radiasi yang berlangsung sangat efektif," jelasnya, dikutip dari laman IPB.

    Ia menerangkan, fenomena tersebut dipicu oleh kombinasi beberapa kondisi atmosfer yang lazim terjadi pada musim kemarau. Salah satu penyebab utamanya adalah langit yang cenderung cerah pada malam hari.

    Selain itu, udara pada musim kemarau umumnya lebih kering dibandingkan musim hujan. Berkurangnya kandungan uap air di atmosfer membuat panas tidak banyak tertahan sehingga proses pendinginan berlangsung semakin efektif.

    "Ketika udara lebih kering, pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih efektif. Akibatnya, udara pada malam hingga pagi hari terasa jauh lebih dingin," ujarnya.

    "Indonesia saat ini berada pada musim kemarau yang dipengaruhi monsun Australia, sedangkan Eropa, Amerika Utara, maupun sebagian Asia Timur sedang memasuki musim panas," urainya.

    Menurutnya, fenomena El Nino yang sedang berkembang juga berpotensi memperkuat kondisi kemarau di Indonesia. Curah hujan yang lebih rendah, kelembapan udara yang menurun, serta langit yang lebih sering cerah pada malam hari membuat proses pendinginan radiasi berlangsung lebih optimal sehingga peluang terjadinya bediding meningkat.

    Wilayah yang Paling Terasa Dingin

    Menurut BMKG, fenomena ini lebih terasa di wilayah dataran tinggi. Sejumlah daerah di dataran tinggi bahkan mengalami suhu yang sangat rendah, seperti Gunung Bromo dan Dieng.

    "Data AWS BMKG mencatat, suhu di Bromo menyentuh angka 3,9 derajat Celcius pada tanggal 11 Juni kemarin. Tapi Dieng juaranya, suhunya hampir menyentuh titik beku di angka 0,7 derajat Celcius," ucap BMKG, dikutip dari Instagram resminya, Selasa (28/7/2026).

    "Saking dinginnya fenomena bediding ini, di daerah dataran tinggi seperti Gunung Bromo, air embun yang menempel di daun bisa membeku jadi kristal es, mirip hampalan salju," lanjut BMKG.

    Senada, Dr Givo mengatakan kondisi tersebut akan terasa lebih nyata di daerah pegunungan dan dataran tinggi.

    Selain dipengaruhi elevasi yang lebih tinggi, udara dingin juga cenderung mengalir dan berkumpul di lembah. Bahkan, di kawasan seperti Dataran Tinggi Dieng, kondisi ini dapat memicu terbentuknya embun beku atau embun upas.

    Sampai Kapan Terjadi?

    Berdasarkan data BMKG dalam 10 tahun terakhir, penurunan suhu mulai terasa pada Juli dan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus.

    Dr Givo Alsepan juga memperkirakan fenomena ini berpotensi berlangsung hingga puncak musim kemarau, yakni sekitar akhir Juli hingga Agustus, bahkan di beberapa wilayah dapat berlanjut hingga awal September, bergantung pada perkembangan kondisi atmosfer.

    Meskipun demikian, ia menegaskan selama fenomena ini masih berlangsung, masyarakat diimbau tetap menjaga kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan pengidap penyakit pernapasan. Udara yang dingin dan kering dapat memperburuk gejala influenza, asma, maupun infeksi saluran pernapasan.

    Masyarakat juga perlu tetap mencukupi kebutuhan cairan tubuh meskipun cuaca terasa dingin, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang cenderung meningkat pada musim kemarau.

    "Masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan karena bediding merupakan bagian dari siklus iklim musiman. Yang terpenting adalah terus mengikuti informasi prakiraan cuaca dan iklim dari BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca secara lebih baik," pungkasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (suc/suc)

    2026-07-28 23:05:14 +0000 UTC