Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:00 WIB
Jakarta, VIVA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan langkah mitigasi untuk mengantisipasi kemungkinan mundurnya awal musim hujan hingga awal 2027 akibat fenomena El Nino yang sangat kuat.
Baca Juga
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan cuaca dan mengevaluasi data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terutama terkait potensi kekeringan berkepanjangan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Kami terus memantau dan mengevaluasi setiap pemutakhiran data cuaca yang disampaikan BMKG terkait potensi kekeringan berkepanjangan," kata Berton saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Baca Juga
BNPB bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah juga menyusun langkah penanganan harian hingga mingguan untuk mengantisipasi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Salah satu upaya yang dilakukan adalah operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan melalui penyemaian natrium klorida (NaCl) atau garam. Satuan tugas udara juga masih beroperasi berdasarkan hasil analisis kondisi cuaca.
Baca Juga
Sementara itu, Direktorat Pengendalian Bencana BNPB melaporkan penanganan kebakaran di sejumlah provinsi prioritas. Luas lahan terbakar yang ditangani mencapai 7.938 hektare di Kalimantan Tengah, 1.974 hektare di Kalimantan Selatan, 1.290 hektare di Kalimantan Barat, 5.194 hektare di Sumatera Selatan, dan 2.025 hektare di Jambi.
Untuk mengatasi dampak kekeringan, BNPB bersama pemerintah daerah dan organisasi atau lembaga nirlaba juga menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak.
Kekeringan turut melanda Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) setelah periode hari tanpa hujan (HTH) mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan. BMKG mencatat kondisi tersebut dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang sangat kuat.
Berton mengatakan BNPB akan terus mengevaluasi langkah kesiapsiagaan dan mitigasi agar penanganan bencana dapat disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.
“Kami akan melakukan evaluasi setiap saat untuk kesiapsiagaan dan mitigasi, termasuk menentukan langkah-langkah yang perlu dilakukan ke depan,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sebelumnya, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik mencapai +2,63 derajat, yang menunjukkan El Nino kategori sangat kuat dan diproyeksikan bertahan hingga awal 2027.
BMKG memprediksi awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan datang lebih lambat. Kondisi tersebut mencakup 529 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,08 persen dari luas daratan Indonesia.
Halaman Selanjutnya
Musim hujan diperkirakan datang secara bertahap, dimulai pada November 2026 di 185 ZOM yang mencakup 24,66 persen daratan Indonesia, kemudian pada Desember 2026 di 266 ZOM yang mencakup 17,31 persen daratan.