El Nino kuat ancam Sumsel, BMKG ingatkan potensi karhutla dan kekeringan ekstrem
El Nino kuat ancam Sumsel, BMKG ingatkan potensi karhutla dan kekeringan ekstrem
Selasa, 4 Agustus 2026 19:42 WIB
Saat matahari cerah hendak tenggelam sore hari di Jembatan Gledek, Keramasan, Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (4/8/2026). ANTARA/M Imam Pramana
Palembang (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dampak El Nino kuat.
Kepala Unit Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sinta Andayani di Palembang, Selasa, mengatakan bahwa pemantauan indeks El Nino pada Agustus ini telah mencapai level kuat dan berpotensi terus meningkat ke tingkat yang lebih ekstrem.
"Monitoring indeks El Nino di bulan Agustus ini berada pada level kuat dengan kecenderungan menuju sangat kuat. Puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September, ditambah dengan pengaruh Monsun Australia yang di Sumsel saat ini juga semakin kuat," katanya.
Sinta menjelaskan, kondisi cuaca di Sumsel secara umum dalam sepekan ke depan diperkirakan cerah berawan. Kendati demikian, potensi hujan lokal dengan intensitas ringan hingga sedang masih dapat terjadi di beberapa titik wilayah bagian barat Sumsel.
"Potensi hujan dengan intensitas ringan masih ada di wilayah barat Sumsel seperti Lahat dan Pagaralam. Sementara untuk wilayah Musi Rawas Utara dan Lubuk Linggau terdapat potensi hujan sedang dalam tiga hari ke depan," jelasnya.
Menurutnya, munculnya potensi hujan di wilayah tersebut dipicu oleh pembentukan pola angin sirkulasi di wilayah perairan barat Bengkulu yang merangsang pertumbuhan awan-awan hujan.
Namun, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan sebagian besar wilayah lain di Sumsel yang hampir tidak memiliki potensi hujan sama sekali.
Mengingat kondisi mayoritas wilayah Sumsel yang sangat kering, BMKG mengingatkan masyarakat dan instansi terkait untuk mengambil langkah antipatif dalam menghadapi dampak kekeringan puncak musim kemarau.
"Melihat kondisi cuaca Sumsel yang dominan kering tanpa hujan, kami mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kebakaran dengan tidak membakar lahan secara sembarangan, bijak dan hemat dalam menggunakan air bersih, serta selalu menjaga kondisi kesehatan dari paparan cuaca panas dan polusi udara," ujarnya.
Pewarta: M. Imam Pramana
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026