Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Herman Saheruddin menegaskan kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih berada dalam jalur yang sehat di tengah berbagai gejolak global. Salah satu indikatornya adalah pertumbuhan ekonomi yang tetap mampu bertahan di atas 5%.

Herman mengatakan ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang terus bertumbuh. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi menunjukkan kemampuan masyarakat dan dunia usaha untuk terus meningkatkan kesejahteraan.

"Nah, ekonomi kita yang saat ini sedang berjalan dengan baik, mungkin saya bisa quote saat ini ekonomi yang baik itu ekonomi yang apa? Ekonomi yang tumbuh. Kalau nggak tumbuh kan namanya apa? Stunting gitu ya," kata Herman dalam Lampung Financial Festival 2026, Sabtu (6/9/2026).

Ia menjelaskan, ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29%, setelah pada kuartal I-2026 mencatat pertumbuhan sebesar 5,6%.

"Nah, ekonomi kita saat ini kuartal dua kemarin tumbuh lebih dari 5% ya gitu ya. Jadi kemarin ekonomi kita sudah tumbuh sekitar 5,29% ya di kuartal dua. Di kuartal pertama tumbuh 5,6%," ujarnya.

Menurut Herman, pertumbuhan ekonomi dapat dipahami sebagai peningkatan nilai ekonomi dari waktu ke waktu. Ia mengibaratkan pertumbuhan ekonomi 5% seperti kenaikan nilai uang yang dimiliki seseorang sebesar 5% dalam setahun.

"Nah, kalau rata-rata ekonomi kita tumbuh 5%. 5% itu maksudnya gini, kalau teman-teman sekarang punya uang 100 gitu ya, Rp100 atau Rp1.000 lah gampangnya ya, berarti satu tahun kemudian uangnya nambah 5%," katanya.

Tahan Guncangan Global

Herman menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten berada di atas 5% menjadi bukti kuat bahwa fondasi ekonomi nasional tetap solid meskipun dunia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pandemi Covid-19 hingga konflik geopolitik di Timur Tengah.

"Jadi yang pertama ekonomi kita masih bisa bertumbuh lebih dari 5%, lebih dari rata-rata selama dua dekade terakhir atau 20 tahun terakhir," kata Herman.

Menurutnya, ketahanan ekonomi tersebut tidak lepas dari kerja sama antara pemerintah, regulator, industri keuangan, dan masyarakat dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

"Ini menunjukkan bahwa apa pun yang terjadi di luar, meskipun misalnya terjadi perang di Timur Tengah, Indonesia juga masih bisa kembali tumbuh di atas 5%," ujarnya.

Empat Penjaga Stabilitas Ekonomi RI

Dalam kesempatan itu, Herman juga menjelaskan peran empat lembaga yang menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas sistem keuangan Indonesia. Keempat lembaga tersebut tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Anggota KSSK terdiri dari Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Kementerian Keuangan.

"Nah, empat lembaga ini tergabung dalam suatu komite namanya Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau singkatnya gampang KSSK. Nah, empat lembaga inilah yang bersama-sama menjaga biar ekonomi kita tetap stabil," jelas Herman.

Ia mengatakan masing-masing lembaga memiliki tugas berbeda namun saling melengkapi dalam menjaga stabilitas sektor keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Adapun Kementerian Keuangan berperan mengelola keuangan negara untuk mendukung pembangunan dan aktivitas ekonomi.

"Kementerian Keuangan itu bayangkan dompet. Jadi di dompet itu kan teman-teman ada uang. Nah, uang Republik Indonesia atau Rupiah yang kita cintai bersama, nah itulah yang dikelola oleh Kementerian Keuangan untuk membangun perekonomian," pungkasnya.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]