Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memandang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah perkembangan El-Nino saat ini dapat menimbulkan dampak ekonomi yang jauh lebih luas dibandingkan nilai lahan atau hutan yang terbakar.

“Bencana mempunyai multiplier effect yang sering tidak terlihat pada hari pertama. Awalnya mungkin kebakaran lahan. Setelah itu muncul masalah kesehatan, aktivitas kerja terganggu, sekolah terganggu, transportasi terganggu dan pada akhirnya kegiatan ekonomi dan daya hidup masyarakat ikut melemah," kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Ia menjelaskan bahwa kabut asap dapat meningkatkan gangguan pernapasan dan biaya kesehatan masyarakat. Aktivitas sekolah juga dapat terganggu dan produktivitas pekerja dapat menurun ketika kualitas udara memburuk.

Gangguan juga dapat menjalar ke penerbangan dan transportasi, distribusi barang, perdagangan lokal serta aktivitas masyarakat sehari-hari.

Pada wilayah yang bergantung pada pertanian, kondisi kering yang berkepanjangan juga dapat memengaruhi ketersediaan air dan produksi pangan. Jika berlangsung cukup lama, dampaknya dapat muncul dalam bentuk tekanan harga pangan dan penurunan pendapatan masyarakat.

Menurut Fakhrul, pencegahan bencana sebenarnya juga merupakan bagian dari menjaga keberlangsungan kegiatan ekonomi. Salah satu karakter unik dari anggaran kebencanaan, ujar dia, adalah keberhasilannya sering justru terlihat ketika sesuatu tidak terjadi.

Ketika kebakaran berhasil dikendalikan sebelum meluas, maka tidak ada aktivitas ekonomi yang berhenti. Ketika sistem peringatan bekerja dengan baik, maka masyarakat dapat mengantisipasi risiko lebih awal.

Ketika logistik dan peralatan telah tersedia, respons juga dapat dilakukan tanpa harus menunggu keadaan memburuk.

Menurutnya, kerugian yang berhasil dicegah tersebut jarang muncul dalam statistik ekonomi, tetapi mempunyai nilai yang nyata bagi masyarakat.

“Kita sering dapat menghitung biaya sebuah bencana setelah terjadi. Yang jauh lebih sulit dihitung adalah kerugian yang tidak jadi terjadi karena pencegahan bekerja. Padahal secara ekonomi nilainya bisa sangat besar,” kata Fakhrul.

Oleh sebab itu, menurut Fakhrul, prinsip lebih baik mencegah daripada mengobati bukan hanya prinsip sosial atau kesehatan, tetapi juga mempunyai logika ekonomi yang kuat.

Ia mengingatkan bahwa biaya kesiapsiagaan dapat direncanakan. Sebaliknya, ketika bencana sudah membesar, pemerintah dan masyarakat menghadapi biaya yang jauh lebih sulit dikendalikan.

Dalam hal ini, Fakhrul menilai kapasitas anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) perlu diperkuat apabila peningkatan risiko bencana memang membutuhkan kesiapan yang lebih besar.

Meski begitu, menurutnya, ukuran yang paling penting bukan sekadar besarnya anggaran, melainkan apakah kapasitas pencegahan dan respons yang diperlukan benar-benar tersedia.

Prioritas perlu diberikan kepada kesiapsiagaan, pemantauan risiko, early warning, personel, logistik, maintenance peralatan, koordinasi dengan BPBD dan kemampuan merespons secara cepat ketika titik api atau bencana mulai muncul.

Fakhrul juga memandang, terdapat prinsip sederhana dalam pengelolaan risiko. Semakin besar probabilitas terjadinya suatu kejadian dan semakin besar potensi kerugiannya, maka semakin penting kesiapan untuk menghadapinya.

Karena itu, imbuh dia, ketika risiko El-Nino dan karhutla meningkat, kapasitas penanggulangan bencana tidak seharusnya justru melemah.

"Kita tentu berharap risiko El-Nino dan karhutla tahun ini dapat dilewati dengan baik. Tetapi harapan harus disertai kesiapan. Karena biaya pencegahan hampir selalu lebih kecil dibandingkan biaya ekonomi, kesehatan dan sosial ketika sebuah bencana sudah terlanjur membesar,” kata Fakhrul.

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Uploader : Ariyadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.