Medan (ANTARA) - Gempa Flores pada 15 Agustus 2026 terjadi pukul 04.58 WIB. Dua menit 16 detik kemudian, BMKG sudah mengeluarkan peringatan dini tsunami. Di Pota, Manggarai Timur, tsunami tercatat sekitar pukul 05.03.

Selisih waktu itu memperlihatkan dua hal sekaligus. Sistem peringatan kita bekerja semakin cepat. Namun, untuk tsunami lokal, waktu yang tersedia bagi warga bisa sangat sempit.

Di sinilah tantangan kebencanaan Indonesia perlu bergeser. Selama ini kita banyak membicarakan last mile: bagaimana informasi dari pusat peringatan sampai kepada masyarakat. Itu tetap penting. Sirene harus berfungsi, jaringan komunikasi tidak boleh mudah lumpuh, dan pesan harus jelas.

Tetapi membawa peringatan sampai ke masyarakat belum berarti semua orang selamat.
Kita perlu bergerak dari last mile menuju last person. Seorang nelayan di pantai, lansia yang berjalan lambat, wisatawan yang tidak mengenal wilayah, atau pasien di rumah sakit mungkin menerima peringatan yang sama. Tetapi kemampuan mereka mencapai tempat aman jelas berbeda.

Di titik inilah sistem peringatan dini sesungguhnya diuji. Teknologi bekerja dalam hitungan detik, sedangkan keselamatan ditentukan oleh kondisi yang jauh lebih rumit: jarak, jalan, kepadatan, kondisi fisik warga, bahkan keputusan yang dibuat dalam kepanikan.

Ukuran keberhasilan karena itu tidak cukup berhenti pada pertanyaan apakah pesan sudah terkirim. Yang perlu diketahui adalah apakah orang yang paling jauh dan paling rentan masih mempunyai cukup waktu untuk menyelamatkan diri.

Untuk tsunami yang sumbernya dekat pantai, alam sendiri harus dibaca sebagai peringatan pertama. Jika gempa terasa sangat kuat atau berlangsung lama di kawasan pesisir, tindakan paling aman adalah segera menjauh dari pantai dan bergerak ke tempat yang lebih tinggi. Jangan menunggu sirene, pesan berantai, atau kepastian di media sosial.

Namun pengetahuan itu tak banyak berarti jika secara fisik warga memang tidak mungkin mencapai tempat aman.
Kita punya banyak peta evakuasi dengan garis dan anak panah yang tampak meyakinkan. Yang belum banyak kita hitung justru waktu: berapa menit yang tersedia dan berapa menit yang dibutuhkan warga untuk benar-benar selamat.

Setiap kawasan pesisir berisiko tinggi perlu memiliki anggaran waktu evakuasi. Berapa lama tsunami diperkirakan tiba? Berapa lama warga keluar dari rumah dan mencapai zona aman? Di mana kemacetan mungkin terjadi? Siapa yang membutuhkan bantuan?
Pengujiannya pun harus mendekati kondisi nyata: malam hari, listrik mati, jalan padat, sebagian akses terhalang, dan tidak semua orang mampu bergerak cepat. Latihan evakuasi bukan seremoni. Ia seharusnya menjadi uji sistem.

Hasil latihan juga jangan berhenti pada laporan bahwa kegiatan berlangsung tertib. Yang lebih penting justru mengetahui siapa yang terlambat, di titik mana arus orang tersendat, dan berapa menit tambahan yang dibutuhkan kelompok paling rentan.
Jika sebagian warga secara realistis tidak mungkin mencapai bukit atau zona aman dalam waktu yang tersedia, masalahnya tidak selesai dengan menambah papan penunjuk.

Di tempat seperti itu, evakuasi vertikal atau pilihan perlindungan lain perlu disiapkan. Flores menunjukkan sisi teknologi dari peringatan dini telah bergerak maju. Sekarang perhatian perlu bergeser kepada manusia di ujung sistem.

Audit waktu evakuasi aktual di permukiman pesisir berisiko tinggi dapat menjadi pekerjaan berikutnya. Hasilnya dipakai untuk memperbaiki rute, menentukan tempat aman, menyiapkan evakuasi vertikal, dan merancang latihan berdasarkan hambatan yang benar-benar dihadapi warga.

Ukuran kesiapsiagaan pun harus berubah. Bukan berapa banyak sirene yang terpasang atau berapa kali simulasi digelar, melainkan berapa banyak orang yang dapat mencapai tempat aman sebelum waktu habis. Dua menit 16 detik menunjukkan bahwa teknologi dapat bergerak sangat cepat.

Pertanyaan berikutnya jauh lebih manusiawi: apakah orang terakhir di zona bahaya juga punya cukup waktu untuk selamat?
Peringatan hanya memberi kesempatan. Yang menyelamatkan nyawa tetaplah tindakan.

Onrizal 

Peneliti Center for Tropical Biodiversity Conservation dari Universitas Sumatera Utara
 

Pewarta: Onrizal ***)
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.