Drama Italia Cari Pelatih: Guardiola Ditentang, Ancelotti Mau Dibajak, Pirlo Ditolak, hingga Mancini Mencuat
Bagikan:
JAKARTA - Tim Nasional (Timnas) Italia masih belum punya pelatih hingga saat ini. Sejauh ini, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) punya beberapa kandidat, tapi tak ada satu pun yang berhasil digaet.
Kesulitan FIGC merekrut pelatih untuk Azzurri tak lepas dari drama yang melingkupi tubuh federasi tersebut. Awalnya, mereka santer ingin mendatangkan Pep Guardiola.
Hanya saja, eks Manajer Manchester City itu menolak tawaran tersebut karena ingin mengambil cuti dari sepak bola selama setahun.
Padahal, Presiden FIGC, Giovanni Malago, mengatakan bahwa pihaknya bersedia melakukan pengorbanan finansial untuk mendatangkan Guardiola meskipun kabar itu ditepis Direktur Teknik FIGC, Paolo Maldini.
Maldini membantah laporan bahwa Guardiola meminta gaji tahunan sebesar 20 juta euro untuk memimpin Italia, yang dilaporkan dua kali lipat dari yang ditawarkan FIGC.
"Bagi Pep, aspek finansial sama sekali bukan faktor," kata Maldini.
ESPN mengungkapkan pekan kemarin bahwa Italia ialah salah satu dari empat negara yang telah mendekati Guardiola sejak ia meninggalkan Manchester City pada akhir musim lalu. Selain Italia, sejauh ini baru muncul Belanda dan Inggris yang dikaitkan berminat kepada Guardiola.
Namun, La Gazzetta dello Sport melaporkan bahwa Guardiola telah menolak tawaran tersebut karena ingin memprioritaskan kehidupan pribadinya setelah menghabiskan 10 tahun di posisi puncak bersama Manchester City.
Boleh dibilang, beruntung Guardiola menolak lebih awal. Soalnya, namanya langsung masuk daftar hitam Komite Olimpiade Italia (CONI) yang memayungi FIGC.
Presiden CONI, Luciano Buonfiglio, tidak menginginkan pelatih asing untuk memimpin Timnas Italia.
"Sebagian besar manajer Serie A kami adalah orang Italia. Manajer Timnas Italia harus bekerja bersama mereka. Mereka berbakat, profesional, dan merupakan produk dari tradisi kami. Mengapa mengecualikan mereka?" ujar Buonfiglio kepada Corriere della Sera.
Tim Azzurri hanya memiliki satu pelatih asing sejak debut mereka 116 tahun yang lalu, yaitu ketika Helenio Herrera dari Argentina memimpin bersama Fercuccio Valcareggi dari Italia antara tahun 1966 dan 1967.
Kandidat Lain Penuh Drama
Setelah kegagalan mendatangkan Guardiola, Italia beralih ke nama lain yang merupakan pelatih lokal, Carlo Ancelotti. Nama pelatih yang kini menukangi Timnas Brasil itu pertama kali diutarakan oleh Paolo Maldini yang baru diangkat sebagai Direktur Teknik pekan lalu.
Legenda Azzurri itu mengatakan bahwa FIGC juga telah menghubungi Carlo Ancelotti. Sayangnya, Ancelotti memiliki kontrak dengan Brasil hingga 2030 dan akan tetap berada di posisinya meskipun tersingkir dari Piala Dunia 2026 di babak 16 besar oleh Norwegia. Belum terang bagaimana FIGC melakukan pendekatan lanjutan untuk membajak eks Manajer Real Madrid itu.
BACA JUGA:
"Sebelum berbicara dengan Pep, saya juga berbicara dengan Carlo Ancelotti. Rasanya tepat bagi kami untuk memulai dengan mereka yang kami anggap sebagai yang terbaik di dunia."
"Kita perlu memeriksa ketersediaan mereka secara umum terlebih dahulu dan kemudian sisanya," kata Maldini, yang pernah bermain bersama Ancelotti dan kemudian dilatih dari tahun 2001 hingga 2009 di AC Milan.
Namun, Maldini yang memang bertugas mencari pelatih Timnas Italia tak patah arang. Ia mengalihkan pandangan kepada Andrea Pirlo.
Di sinilah drama internal dimulai. Maldini sangat menginginkan Pirlo menukangi Italia, tapi Malago justru menolak mentah-mentah.
Merangkum Football Italia dan Sky Sports Italia, Maldini justru mengundurkan diri dari jabatannya karena Pirlo gagal menjadi pelatih Azzurri pada Senin, 27 Juli 2026, waktu setempat.
Tak hanya Maldini, Leonardo Araujo juga melepaskan jabatan Penasihat Teknis meski keduanya baru tunjuk pada 11 Juli 2026.
Pirlo gagal mendapat restu Malago karena ia menjadi duta perusahaan judi asal Rusia, Fonbet.
Namun, sejatinya Pirlo juga enggan melatih Italia. Ia mengonfirmasi pengunduran dirinya sebagai kandidat dalam sebuah unggahan Instagram pada Senin, 27 Juli 2206, dengan mengatakan bahwa ia mendengar tadi malam bahwa dirinya bukan lagi kandidat untuk posisi pelatih Timnas Italia.
Selain Malago, beberapa politisi Italia telah menyuarakan kekhawatiran tentang kontrak Pirlo sebagai duta Fonbet, dengan mengatakan bahwa pelatih Azzurri seharusnya tidak memiliki pandangan yang bertentangan tentang dukungan Italia untuk Ukraina dalam perang dengan Rusia.
Namun, Pirlo segera meluruskan anggapan tersebut dengan mengatakan kesepakatan Fonbet terkait dengan pekerjaannya di Uni Emirat Arab semata-mata untuk tujuan komersial dan olahraga.
"Mengaitkan makna politik pada kolaborasi itu berarti mengaitkan keyakinan kepada saya yang tidak pernah saya ungkapkan dan bukan milik saya."
"Kecintaan saya kepada Italia tidak bergantung pada pekerjaan. Itu adalah bagian dari sejarah saya, identitas saya, dan akan tetap selamanya," kata Pirlo.
Pirlo, yang telah siap meninggalkan pekerjaannya saat ini sebagai pelatih Dubai United, ialah pilihan yang tidak populer setelah masa kepelatihannya yang tidak sukses di Juventus dan Sampdoria--meskipun ia merupakan salah satu pemain yang menonjol ketika Italia terakhir kali memenangi Piala Dunia pada 2006.
Namun, Pirlo lebih disukai oleh Maldini daripada tokoh-tokoh seperti Roberto Mancini dan Antonio Conte karena ia dianggap lebih bersedia beradaptasi dengan kebijakan baru dan mempromosikan pemain muda dalam sistem yang berorientasi menyerang.
Jadi, bukan cuma kegagalan merekrut Pirlo, melainkan juga nama Mancini dan Conte yang kini kuat sebagai kandidat pelatih Timnas Italia yang membuat Maldini memilih mundur dari jabatannya.
Mancini melatih Italia hingga meraih gelar Euro 2021, kemudian gagal membawa Azzurri ke Piala Dunia tahun berikutnya sebelum pindah untuk melatih Timnas Arab Saudi. Ia meninggalkan Arab Saudi pada 2024 dan terakhir melatih Al Sadd di Qatar.
Sementara Conte melatih Italia hingga perempat final Euro 2016 dan terakhir melatih Napoli.
Pilihan lain bisa jadi mantan pelatih Inter Milan, Simone Inzaghi, yang saat ini melatih di Liga Pro Arab Saudi.
Siapa pun yang dipekerjakan akan menjadi pelatih keempat Italia dalam empat tahun terakhir.
Ketika Luciano Spalletti dipecat setelah Italia kalah dalam pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026 pembuka melawan Norwegia tahun lalu, Claudio Ranieri menolak tawaran untuk menggantikannya dan Gattuso yang jauh kurang berpengalaman dipekerjakan sebagai gantinya.
Azzurri kemudian telah tanpa pelatih sejak Gennaro Gattuso mengundurkan diri setelah kekalahan di babak playoff Kualifikasi Piala Dunia 2026 pada April lalu melawan Bosnia-Herzegovina yang membuat Italia gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut.
Italia selanjutnya akan bermain pada September dan Oktober 2026, ketika mereka akan menghadapi Belgia, Turki, dan Prancis di UEFA Nations League.
Italia membutuhkan perubahan besar dan Giovanni Malago, yang terpilih sebagai presiden FIGC pada 22 Juni 2026, berbicara tentang proyek untuk membangun kembali Azzurri.
"Target yang telah kami tetapkan ialah enam tahun, hingga Euro 2032, di mana pada saat itu kami harus menutup kesenjangan yang mencolok ini yang jelas terlihat oleh semua orang. Kami perlu membangun kembali jalan dari bawah," katanya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
Populer
28 Juli 2026, 06:00
28 Juli 2026, 10:41
28 Juli 2026, 15:27
28 Juli 2026, 13:19
28 Juli 2026, 14:20