DPR Minta BNPB Orkestrasi Data Ancaman El Nino, Ketahanan Pangan Jadi Prioritas
Bagikan:
JAKARTA - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman menekankan pentingnya sistem yang efektif dalam menghadapi potensi dampak fenomena El Nino yang beriringan dengan musim kemarau di tahun 2026 ini. Ia pun mendorong Pemerintah untuk menugaskan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengorkestasi pengumpulan data ancaman bencana akibat fenomena El Nino dan kemarau.
Dorongan ini disampaikan Alex dalam merespon langkah antisipatif Presiden Prabowo Subianto yang telah menginstruksikan jajarannya untuk merancang langkah menghadapi musim kemarau yang beriringan dengan fenomena El Nino pada rapat terbatas, Selasa, 28 Juli kemarin.
“Data yang akurat, akan memudahkan penyusunan rencana antisipasi secara lebih komprehensif. Juga akan memudahkan DPR melakukan pengawasan dan evaluasi,” ujar Alex Indra Lukman, Kamis, 30 Juli.
Alex menilai peran BNPB cukup signifikan sebagai lembaga penanganan darurat bencana. Menurutnya, potensi masalah yang akan dihadapi di setiap daerah, akan berbeda satu sama lain sesuai karakteristiknya masing-masing.
"Karenanya, kemampuan BNPB mengorkestrasi pengumpulan data, akan menghasilkan langkah antisipasi secara lebih akurat, terukur dan tepat sasaran,” katanya.
Di sisi lain, Alex menekankan pentingnya kementerian/lembaga terkait menyiapkan berbagai langkah untuk mengawal program ketahanan pangan di tengah ancaman bencana akibat El Nino dan puncak kemarau. Seperti Kementerian Pertanian yang dinilai perlu mendorong kepala daerah di semua tingkatan untuk menyusun langkah antisipatif sesuai kearifan lokal masing-masing daerah.
“Yang paling paham karakteristik daerah tentu saja para pemimpinnya. Kementrian Pertanian, harus terbuka dengan masukan daerah dalam menjawab tantangan El Nino yang disertai kemarau,” tegas Alex.
"Di antara kearifan lokal yang diharapkan itu, tentang upaya menjaga ketersediaan air dan melindungi sektor pertanian dalam kerangka mempertahankan swasembada beras," pungkas Legislator dari Dapil Sumatera Barat I itu.
BACA JUGA:
Untuk diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada bulan Juli hingga September 2026 di mana kemarau pada bulan Juli mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 persen luas daratan Indonesia.
Sementara, pada bulan Agustus, puncak kemarau terjadi di 369 ZOM (48,84 persen luas daratan) dan 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) di bulan September. BMKG telah memproyeksikan peluang terjadinya El Nino di Indonesia mencapai kategori sangat kuat hingga 75 persen dan diperkirakan bertahan hingga Oktober 2026.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+